faktual.news – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim bahwa petani di sejumlah negara pengekspor beras kini tengah menghadapi tekanan berat, bahkan sampai turun ke jalan melakukan protes. Penyebabnya tak lain adalah keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras.
Amran menjelaskan, Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu importir beras terbesar di dunia, kini telah berbalik arah. Jika pada tahun 2023-2024 Indonesia mengimpor hingga 7 juta ton beras, pemerintah menargetkan tidak akan ada lagi impor pada tahun 2025. Peningkatan produksi domestik yang signifikan menjadi kunci utama di balik pencapaian swasembada ini.

"Ketika kita tidak lagi mengimpor, tentu negara-negara pengekspor beras seperti Thailand, Vietnam, India, dan Pakistan merasakan dampaknya. Petani mereka terancam, bahkan ada yang berdemonstrasi," ujar Amran dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Timur pada Selasa (22/9). Ia bahkan mengajak publik untuk mencari tahu kebenaran klaim tersebut.
Posisi Indonesia sebagai pasar beras yang sangat besar di kancah global membuat kebijakan penghentian impor ini memiliki implikasi luas. Amran membeberkan, harga beras dunia yang semula berada di kisaran US$660 per ton, kini anjlok drastis hingga menyentuh angka US$368 per ton. Penurunan harga ini, menurutnya, berkaitan erat dengan berkurangnya permintaan masif dari Indonesia yang dulu menjadi langganan impor dari berbagai negara.
Situasi ini bahkan memicu reaksi dari pemimpin negara lain. Amran mengungkapkan, beberapa di antaranya sempat meminta Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia kembali membuka keran impor beras. Namun, Amran dengan tegas menyarankan agar permintaan tersebut tidak dipenuhi.
"Kami sampaikan kepada Bapak Presiden, ini tidak mungkin. Jika kita kembali mengimpor, itu akan sangat melukai hati 115 juta petani Indonesia. Mereka akan kehilangan semangat dan motivasi," tegas Amran. Ia menambahkan bahwa ancaman penyelundupan beras, meskipun nilai ekonominya tidak seberapa, dapat menjadi faktor pemicu demotivasi yang serius bagi petani lokal. Keberhasilan swasembada ini, bagi Amran, adalah bentuk penghargaan tertinggi bagi jerih payah para petani di tanah air.


