faktual.news – Dunia bisnis pertambangan batu bara Indonesia kembali bergejolak dengan manuver strategis yang melibatkan dua nama besar. Pengusaha kawakan Andi Syamsuddin Arsyad, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, melalui PT Jhonlin Baratama, dikabarkan akan mengakuisisi 10 miliar saham PT Bayan Resources Tbk BYAN. Langkah ini dipastikan bakal merombak drastis peta kepemilikan saham di salah satu raksasa batu bara tersebut, terutama bagi Low Tuck Kwong, sang taipan pendiri Bayan.
Rencana akuisisi ini mencakup sekitar 30 persen dari total saham Bayan Resources yang telah diterbitkan. Sebelum manuver besar ini, struktur kepemilikan Bayan tercatat pada 31 Maret 2026 menunjukkan Low Tuck Kwong memegang kendali signifikan dengan 13.406.921.870 saham atau sekitar 40,25 persen. Putrinya, Elaine Low, juga memiliki porsi besar sebanyak 7.333.833.700 saham, setara 22 persen. Secara kolektif, ayah dan anak ini menguasai sekitar 62,25 persen saham BYAN. Sementara itu, PT Sumber Suryadaya Prima tercatat memiliki 3.333.380.000 saham atau 10 persen, dan sisanya sekitar 21,29 persen dimiliki oleh masyarakat serta jajaran direksi.

Pertanyaan besar yang muncul adalah seberapa besar dampak transaksi ini terhadap kepemilikan individual Low Tuck Kwong. Dokumen keterbukaan informasi Bayan menyebutkan bahwa perjanjian jual beli saham ditandatangani oleh Low Tuck Kwong dan Elaine Low dengan PT Jhonlin Baratama, melibatkan total 10.000.000.500 saham. Namun, rincian pembagian saham yang dialihkan dari masing-masing pihak, apakah dari Low Tuck Kwong, Elaine Low, atau kombinasi keduanya, belum diungkap secara spesifik.
Jika diasumsikan 10 miliar saham tersebut berasal dari total kepemilikan gabungan Low Tuck Kwong dan Elaine Low, maka porsi kolektif mereka akan menyusut dari sekitar 62,25 persen menjadi sekitar 32,25 persen. Namun, angka ini masih merupakan kepemilikan gabungan, bukan porsi Low Tuck Kwong secara pribadi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, mari berandai-andai. Seandainya seluruh 10 miliar saham yang dialihkan sepenuhnya berasal dari kepemilikan Low Tuck Kwong saja, maka sisa sahamnya akan berada di kisaran 3,41 miliar saham, atau sekitar 10,22 persen dari total saham Bayan. Ini tentu akan menjadi perubahan signifikan dalam dominasi kepemilikan sang pendiri.
Dengan Haji Isam mengakuisisi 30 persen saham, secara matematis akan tersisa sekitar 23,33 miliar saham atau 70 persen yang tetap berada di tangan pemegang saham lainnya. Kelompok ini, berdasarkan struktur per 31 Maret 2026, masih terdiri dari Low Tuck Kwong, Elaine Low, PT Sumber Suryadaya Prima, masyarakat umum, serta beberapa anggota direksi lainnya. Jadi, 30 persen saham yang beralih ke Haji Isam tidak serta-merta membuat sisa 70 persen terkonsolidasi ke satu atau dua pihak, melainkan tetap terdistribusi sesuai porsi masing-masing pemegang saham yang ada. Perubahan ini menandai babak baru dalam dinamika kepemilikan di Bayan Resources.


