faktual.news – Mata uang Garuda kembali menunjukkan sinyal kurang bergairah. Pada perdagangan Kamis sore, nilai tukar rupiah terkapar di level Rp17.753 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini cukup signifikan, mencapai 57 poin atau setara 0,32 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya, menandakan tekanan yang kuat dari mata uang Paman Sam.
Kondisi rupiah yang melemah ternyata bukan fenomena tunggal. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga bernasib serupa, tak berdaya menghadapi dominasi dolar AS. Sebut saja Yuan China yang tergerus 0,01 persen, Peso Filipina yang melemah 0,02 persen, Ringgit Malaysia anjlok 0,54 persen, Won Korea Selatan terdepresiasi 0,85 persen, serta Dolar Hong Kong yang terkoreksi tipis 0,01 persen. Namun, ada pengecualian, Dolar Singapura justru perkasa dengan kenaikan 0,09 persen dan Yen Jepang menguat 0,25 persen.

Pergerakan mata uang global pun tak kalah menarik. Di antara mata uang utama negara maju, situasinya bervariasi. Euro Eropa dan Dolar Australia berhasil mencatatkan penguatan masing-masing 0,03 persen dan 0,32 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, Poundsterling Inggris, Dolar Kanada, dan Franc Swiss harus mengakui keperkasaan dolar AS dengan koreksi tipis 0,01 persen.
Lalu, apa pemicu utama di balik merosotnya kinerja rupiah ini? Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah yang cukup besar ini terjadi di tengah lonjakan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. "Pernyataan hawkish dari Kepala The Fed Warsh pasca-FOMC semalam telah memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini, membuat dolar AS semakin perkasa," jelas Lukman.
Situasi global ini tentu saja memberikan dampak langsung terhadap kebijakan moneter di dalam negeri. Tekanan besar kini menanti Bank Indonesia (BI) menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan. Dengan kondisi pasar yang bergejolak, diperkirakan BI akan cenderung mempertahankan tingkat suku bunga acuannya untuk menjaga stabilitas ekonomi.


