faktual.news – Sebuah insiden keracunan makanan massal yang menggemparkan Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini menjadi sorotan nasional. Ratusan warga, mayoritas pelajar, dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi kejadian serius ini, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung bergerak cepat, mengumumkan rencana audit menyeluruh terhadap 172 dapur penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut.
Wakil Kepala BGN, Trenggono, menegaskan bahwa evaluasi ini bukan sekadar formalitas. Setiap SPPG akan diperiksa ketat untuk memastikan seluruh proses penyiapan hingga distribusi makanan telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dan keamanan pangan. "Dapur yang terbukti tidak memenuhi standar, bahkan yang kondisinya buruk, akan kami hentikan operasionalnya, mungkin secara permanen. Ini adalah komitmen kami di BGN demi keselamatan masyarakat," tegas Trenggono dalam keterangan resminya.

Pemerintah Kabupaten Pati tidak tinggal diam. Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyatakan bahwa tim gabungan dari pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, Kodim, Polres, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pati akan turun langsung ke lapangan mulai pekan depan. Mereka akan meninjau kondisi fisik dapur dan yang tak kalah penting, mengecek kapasitas SPPG. Chandra menyoroti potensi masalah jika sebuah dapur dengan fasilitas terbatas harus melayani ribuan penerima manfaat, seperti kasus dapur yang melayani 2.500 hingga 3.000 orang. Hasil pemeriksaan ini akan menjadi rekomendasi penting bagi BGN untuk perbaikan ke depan.
Di tengah upaya audit, penanganan korban keracunan tetap menjadi prioritas utama. Trenggono bersama Chandra telah meninjau langsung kondisi para pasien. Hingga Kamis siang, 59 orang masih menjalani perawatan intensif. Namun, kabar baiknya, kondisi mereka dilaporkan membaik dan tidak ada yang dalam keadaan mengkhawatirkan. Pemerintah juga menjamin seluruh biaya perawatan para korban akan ditanggung penuh.
Insiden ini resmi ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Pemkab Pati, mengingat dampaknya yang menyangkut keselamatan banyak orang. Laporan awal keracunan muncul dari sejumlah sekolah di Kecamatan Gembong, Pati, dan kemudian meluas. Tiga sekolah yang terdampak parah adalah SMP Negeri 1 Gembong, MTs Negeri 3 Pati, dan MTs Manbaul Ulum. Ratusan siswa dan guru dari sekolah-sekolah ini mengalami gejala mual, pusing, dan diare setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Penyelidikan awal mengarah pada satu sumber: SPPG Pati Gembong 1. Akibatnya, operasional dapur ini langsung dihentikan sementara oleh Pemkab Pati, setidaknya selama tiga hingga enam bulan, sambil menunggu hasil pemeriksaan mendalam. Dinas Kesehatan Pati juga mengingatkan pentingnya durasi penyimpanan makanan yang tidak boleh lebih dari empat jam, guna mencegah perkembangan bakteri berbahaya. Saat ini, penyebab pasti keracunan masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang, dengan Pemkab Pati berkomitmen mengawal tuntas kasus ini demi kejelasan dan keadilan bagi para korban.


