Faktual.news – Dunia teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali melahirkan sosok miliarder baru yang mengubah wajah industri medis global. Daniel Nadler, pria di balik kesuksesan OpenEvidence, kini menjadi sorotan dunia setelah kekayaannya melonjak drastis hingga mencapai angka Rp137,5 triliun.
Berdasarkan data terbaru dari Forbes, total kekayaan Nadler diperkirakan menyentuh angka US$7,6 miliar. Pencapaian fantastis ini menempatkannya dalam jajaran elit orang terkaya di dunia, tepatnya di peringkat ke-516 secara global, serta menempati posisi ke-498 dalam daftar orang terkaya di sektor teknologi. Tak hanya soal materi, pengaruhnya pun diakui secara luas, di mana majalah Time menobatkan dirinya sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di bidang AI untuk tahun 2026.

Lantas, siapa sebenarnya Daniel Nadler? Pria kelahiran Toronto, Kanada, pada 3 Juni 1983 ini memiliki latar belakang pendidikan yang sangat mumpuni. Setelah menempuh studi di Universitas Toronto, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang pascasarjana di Universitas Harvard hingga berhasil meraih gelar PhD di bidang ekonomi politik. Selama di Harvard, ia tidak hanya bergelut dengan angka, tetapi juga mendalami matematika dan sastra.
Perjalanan karier Nadler dimulai saat ia menjabat sebagai sarjana tamu di Federal Reserve Bank of Boston pada 2013. Pengalaman di bank sentral tersebut menjadi titik balik penting. Ia merasa miris melihat para analis keuangan masih menggunakan metode manual yang lambat untuk memproses data global. Hal inilah yang mendorongnya mendirikan Kensho Technologies, sebuah mesin pencari cerdas untuk analisis data keuangan berbasis AI. Kensho sukses besar dan pada 2018 berhasil dijual ke S&P Global dengan nilai fantastis, yakni US$550 juta.
Namun, gebrakan terbesarnya muncul pada tahun 2022 melalui OpenEvidence. Bersama rekannya, Zachary Ziegler, ia menciptakan platform yang dijuluki sebagai "ChatGPT untuk Dokter". Berbeda dengan AI umum, OpenEvidence dirancang khusus untuk memproses informasi hanya dari sumber medis yang terpercaya dan berlisensi. Platform ini membantu para tenaga medis mengambil keputusan klinis dengan cepat dan akurat di tengah derasnya arus informasi medis.
Nadler menyadari bahwa meskipun dunia bioteknologi sedang berada di masa keemasan, para dokter justru sering mengalami "zaman kegelapan" akibat beban kerja dan kelelahan informasi yang ekstrem. Untuk menjamin akurasi, OpenEvidence bekerja sama dengan institusi medis ternama seperti The New England Journal of Medicine dan JAMA.
Keberhasilan ini terlihat dari angka pengguna yang terus meroket. Saat ini, lebih dari 758 ribu dokter telah menggunakan platform ini, dengan pertumbuhan sekitar 55 ribu pengguna baru setiap bulannya. Valuasi OpenEvidence pun melesat tajam, diperkirakan mencapai US$12 miliar pada awal 2026 setelah mendapatkan suntikan dana Seri D.
Menariknya, di balik otak jenius di bidang teknologi ini, Nadler ternyata adalah seorang penyair. Ia telah menerbitkan buku puisi berjudul "Lacunae" dan memiliki ketertarikan mendalam pada dunia sastra. Kini, ia menikmati hasil kerja kerasnya di sebuah griya tawang mewah di Surfside, Florida, dengan aset properti lain yang tersebar di kawasan elit California.


