Faktual.news – Kawasan Asia Tenggara kini tengah berada di persimpangan jalan yang krusial terkait pemenuhan kebutuhan energi. Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi yang pesat, permintaan energi di wilayah ASEAN terus melonjak tajam, membawa tantangan baru bagi ketahanan energi regional di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data terbaru dari Asean Energy Statistical Yearbook 2026, total konsumsi energi akhir di kawasan ASEAN pada tahun 2024 telah menyentuh angka 463 juta ton setara minyak (Mtoe). Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan data tahun 2005. Laporan dari International Energy Agency (IEA) juga memperkuat fakta ini, di mana kebutuhan minyak di kawasan yang menampung 9 persen populasi dunia tersebut mencapai 5 juta barel per hari, dengan pertumbuhan rata-rata 1,5 persen setiap tahunnya sejak 2015.

Lonjakan permintaan ini tidak lepas dari masifnya industrialisasi di Asia Tenggara. Sektor manufaktur kini menjadi penyerap energi terbesar, menyumbang sekitar 45 persen dari total konsumsi energi di ASEAN. Selain itu, meningkatnya pendapatan masyarakat juga memicu tingginya mobilitas penduduk. Hal ini berdampak langsung pada sektor transportasi, terutama dengan menjamurnya kepemilikan kendaraan roda dua yang terus mengerek konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Namun, ketergantungan pada bahan bakar fosil menjadi titik lemah yang mengkhawatirkan. Kapasitas produksi minyak domestik di banyak negara ASEAN masih terbatas, sehingga ketergantungan terhadap impor menjadi sangat tinggi. Kondisi ini membuat kawasan sangat rentan terhadap gejolak geopolitik, terutama di Timur Tengah yang memasok sekitar 55 persen kebutuhan minyak ASEAN. Gangguan di wilayah tersebut dapat seketika melumpuhkan ketahanan energi di Asia Tenggara.
Menanggapi tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) mendorong penguatan kolaborasi strategis melalui forum 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Dalam pertemuan bertajuk Strengthening Resilience Through Collaboration yang digelar di Bali, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menekankan bahwa ketahanan energi harus dipandang secara jangka panjang.
"Ketahanan energi bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan pasokan untuk generasi mendatang. Kita harus memastikan sistem yang kita bangun saat ini mampu mendukung ekonomi dan melayani anak cucu kita nanti," ujar Simon.
Ia mengibaratkan kolaborasi antarnegara ASEAN seperti sebuah orkestra. Meski setiap negara memiliki instrumen atau kapasitas yang berbeda, harmoni akan tercipta jika setiap negara mampu menyumbangkan keunggulan uniknya untuk mencapai tujuan bersama.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), Ikhsan Kiat, memberikan perspektif berbeda mengenai pentingnya sumber daya manusia. Menurutnya, kekayaan alam di bawah tanah tidak akan berarti tanpa kualitas manusia yang mampu mengelolanya.
Ikhsan memperkenalkan konsep Human Energy Security atau ketahanan energi manusia. Ia berpendapat bahwa ASCOPE tidak boleh hanya fokus pada konektivitas infrastruktur dan pasar, tetapi juga harus fokus pada pengembangan talenta. "Sumber daya terbesar sebuah bangsa bukanlah apa yang ada di dasar laut, melainkan energi manusia yang ada di dalam dirinya," tegas Ikhsan.
Ia mendorong empat prinsip utama dalam pengembangan SDM energi, yakni ketersediaan talenta (availability), akses terhadap kesempatan (accessibility), keterjangkauan pendidikan (affordability), serta integritas dan kesejahteraan tenaga kerja (acceptability). Melalui sinergi antara infrastruktur fisik dan kualitas manusia, ASEAN diharapkan mampu menghadapi tantangan energi di masa depan dengan lebih tangguh.


