Faktual.news – Mata uang Garuda harus menelan pil pahit saat menutup perdagangan di penghujung pekan ini. Nilai tukar rupiah dilaporkan mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang membuat posisi mata uang nasional berada di zona merah pada perdagangan Jumat (23/10) sore.
Berdasarkan data pasar, rupiah terpantau mendarat di level Rp18.080 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya, mata uang kebanggaan Indonesia ini merosot sebesar 20 poin atau setara dengan depresiasi sebesar 0,11 persen. Kondisi ini menambah daftar panjang tekanan terhadap stabilitas nilai tukar domestik dalam beberapa waktu terakhir.

Jika menilik pergerakan mata uang di kawasan Asia, tren yang terjadi cukup bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China tercatat sedikit menguat dengan kenaikan sebesar 0,06 persen. Namun, kondisi berbeda dialami oleh negara tetangga seperti Filipina, di mana peso melemah 0,12 persen, serta Malaysia yang ringgitnya mengalami depresiasi tipis sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, beberapa mata uang lainnya di Asia juga menunjukkan tren yang beragam. Dolar Singapura terpantau turun 0,08 persen, yen Jepang terkoreksi 0,07 persen, won Korea Selatan melemah 0,05 persen, dan dolar Hong Kong juga mengalami penurunan sebesar 0,06 persen.
Kondisi serupa juga terjadi pada kelompok mata uang utama negara-negara maju. Secara kolektif, mata uang global ini tampak kompak melemah terhadap dominasi dolar AS. Euro tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,25 persen, diikuti oleh pound sterling Inggris yang turun 0,13 persen. Selain itu, dolar Australia terkoreksi 0,06 persen, dolar Kanada melemah 0,04 persen, dan franc Swiss mengalami penurunan paling signifikan sebesar 0,37 persen.
Menanggapi fenomena pelemahan ini, analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari satu faktor, melainkan kombinasi antara dinamika global dan kondisi pasar domestik.
Lukman menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama melemahnya rupiah. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik yang tengah memanas di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian politik global cenderung membuat investor mencari aset yang lebih aman (safe haven), yang pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia akibat kekhawatiran eskalasi geopolitik di Timur Tengah," ungkap Lukman saat memberikan keterangan kepada faktual.news.
Selain faktor eksternal berupa harga komoditas dan geopolitik, Lukman juga menyoroti kondisi internal ekonomi Indonesia. Ia menyebutkan bahwa arus keluar modal asing (capital outflow) yang terjadi secara berkelanjutan turut memberikan tekanan tambahan bagi mata uang Garuda. Aliran dana keluar ini membuat permintaan terhadap rupiah menurun, sehingga nilai tukarnya semakin tertekan di pasar valuta asing.


