faktual.news – Mata uang kebanggaan Indonesia, Rupiah, memulai perdagangan hari ini Selasa 15 September dengan performa positif. Rupiah tercatat berada di level Rp17.667 per dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan tipis sebanyak dua poin atau setara 0,01 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya.
Namun, tren positif Rupiah ini berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang justru tertekan. Won Korea Selatan melemah 0,38 persen baht Thailand turun 0,07 persen dan ringgit Malaysia merosot 0,08 persen. Yuan China juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan 0,02 persen diikuti yen Jepang yang melemah 0,27 persen dolar Singapura 0,10 persen dan rupee India 0,12 persen. Di tengah gelombang pelemahan ini hanya peso Filipina yang berhasil menguat 0,05 persen sementara dolar Hong Kong stagnan.

Kondisi serupa juga melanda mata uang negara-negara maju. Poundsterling Inggris melemah 0,09 persen dolar Australia 0,11 persen euro Eropa 0,09 persen franc Swiss 0,07 persen dan dolar Kanada 0,05 persen semuanya kompak menunjukkan tren negatif terhadap dolar AS.
Analis pasar uang Lukman Leong mengungkapkan bahwa potensi penguatan Rupiah hari ini didorong oleh sentimen positif pasar. Pergantian menteri keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara diyakini akan disambut baik oleh pelaku pasar.
Meski demikian Lukman menambahkan bahwa ruang gerak penguatan Rupiah diperkirakan terbatas. Faktor harga minyak mentah global yang masih tinggi serta sikap kehati-hatian investor menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal FOMC pada hari Rabu menjadi penahan laju apresiasi Rupiah. Berdasarkan sentimen tersebut Lukman Leong memprediksi pergerakan Rupiah hari ini akan berada di rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.


