Faktual.news – Mata uang Garuda menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Kamis (29/10) sore. Nilai tukar rupiah berhasil menguat ke level Rp18.137 per dolar AS, mencatatkan kenaikan sebesar 47 poin atau setara dengan 0,26 persen dibandingkan posisi penutupan pada hari sebelumnya.
Tren penguatan ini tidak terjadi secara tunggal. Rupiah tampak bergerak selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga menunjukkan dominasi warna hijau terhadap dolar AS. Fenomena ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas moneter di kawasan Asia Tenggara maupun Asia Timur.

Jika menilik pergerakan mata uang tetangga, terlihat bahwa ringgit Malaysia mencatatkan apresiasi sebesar 0,40 persen, diikuti oleh peso Filipina yang naik 0,30 persen. Sementara itu, won Korea Selatan juga ikut merangkak naik sebesar 0,42 persen. Di sisi lain, yuan China terpantau menguat tipis 0,06 persen dan dolar Singapura naik 0,03 persen. Meski demikian, tidak semua mata uang Asia mengalami penguatan; yen Jepang sedikit melemah 0,03 persen dan dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di kancah global, dinamika mata uang utama negara maju menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Dolar Kanada terpantau bergerak stagnan atau datar. Sementara itu, beberapa mata uang kuat lainnya justru mengalami tekanan, seperti euro yang melemah 0,17 persen, pound sterling Inggris yang turun 0,17 persen, dolar Australia yang terkoreksi 0,23 persen, serta franc Swiss yang merosot tipis 0,01 persen.
Menanggapi pergerakan ini, analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya. Menurutnya, penguatan rupiah dipicu oleh pelemahan dolar AS yang terjadi setelah keluarnya hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Hasil rapat tersebut dinilai telah sesuai dengan ekspektasi yang telah diprediksi oleh pelaku pasar sebelumnya.
Namun, Lukman memberikan catatan penting bahwa meskipun hasil rapat FOMC sesuai ekspektasi, dokumen tersebut belum memberikan petunjuk atau panduan yang lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed di masa mendatang. Ketidakpastian mengenai langkah suku bunga AS inilah yang masih membayangi pasar global.
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa meskipun rupiah berhasil menguat, ruang gerak mata uang Garuda masih terganjal oleh beberapa faktor penghambat. Sentimen risk-off atau kecenderungan investor untuk menghindari risiko di pasar global masih terasa kuat. Selain itu, kondisi ini diperparah dengan adanya aksi jual bersih oleh investor asing di pasar domestik, yang secara langsung memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.


