faktual.news – Suasana kuliah umum Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Universitas Sumatera Utara USU Medan pada sebuah Rabu mendadak heboh. Dua mahasiswa secara tak terduga muncul dan menyuarakan protes keras, namun reaksi sang menteri justru menuai pujian. Alih-alih marah, Amran justru mengajak mereka berdialog, menekankan pentingnya komunikasi dan sikap dewasa dalam berdemokrasi.
Insiden penyelaan terjadi saat Amran tengah memaparkan materi tentang inovasi dan kolaborasi generasi muda menuju swasembada pangan di hadapan ratusan peserta. Tiba-tiba, dua mahasiswa memasuki auditorium sambil membawa megafon, melontarkan orasi yang menyoroti isu Papua, khususnya klaim tentang "Papua Selatan tanah kosong" dan proyek-proyek kapitalis yang mengancam masyarakat adat. Aksi spontan ini sempat menimbulkan kegaduhan di ruangan, dengan beberapa peserta menyerukan agar kedua mahasiswa itu turun dari panggung.

Namun, Amran Sulaiman menunjukkan ketenangan luar biasa. Ia justru meminta ajudannya untuk mendekatkan para mahasiswa tersebut ke panggung, membuka ruang diskusi langsung. "Anak-anakku, kita harus berkomunikasi. Kalian adalah harapan bangsa, penerus perjuangan Republik Indonesia. Menteri itu hanya sementara, nanti yang melanjutkan kalian," ujar Amran dari podium, menenangkan suasana.
Dalam kelanjutan kuliahnya, Amran memberikan pesan mendalam kepada para mahasiswa. Ia menekankan bahwa untuk meraih kesuksesan, seseorang harus siap menghadapi kritik, cemoohan, bahkan fitnah. Menurutnya, tekanan tinggi adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju keberhasilan. Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk melihat protes tersebut sebagai bagian dari ruang dialog yang sehat, meyakini bahwa setiap kritik muncul dari keinginan untuk melihat Indonesia yang lebih baik.
Setelah acara resmi berakhir, Amran kembali menegaskan bahwa ia sama sekali tidak mempermasalahkan aksi protes tersebut. Baginya, kritik dari mahasiswa adalah hal yang sangat positif, asalkan disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan fakta. "Itu sangat bagus. Kalau mau berhasil, harus mendapatkan tekanan lebih. Yang penting konstruktif. Kita harus mendengarkan aspirasi," jelasnya kepada awak media.
Amran mengungkapkan bahwa ia sempat berdialog langsung dengan kedua mahasiswa itu usai acara. Dengan menjelaskan menggunakan data dan fakta konkret, bukan sekadar narasi kosong, ia berhasil membuat para mahasiswa memahami perspektif pemerintah. Bahkan, Amran mengaku terharu melihat beberapa mahasiswa meneteskan air mata setelah mendapatkan penjelasan yang komprehensif. "Ternyata mereka hanya ingin tahu apa sebenarnya capaian pemerintah," imbuhnya.
Meskipun demikian, Amran mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah atau narasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Ia mengajak semua pihak untuk berjuang bersama demi kemajuan negeri. Akhirnya, kedua mahasiswa yang sempat menyela itu bersedia naik ke panggung dan berdialog langsung dengan Amran selama lebih dari 15 menit, tidak hanya membahas isu Papua tetapi juga persoalan pertanian, ketimpangan petani, hingga komoditas kedelai. Kegiatan pun ditutup sesuai jadwal yang telah ditetapkan.


