faktual.news – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia melontarkan peringatan keras kepada para pengusaha di sektor pertambangan. Ia menegaskan, Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan akan dievaluasi ulang jika mereka tidak mematuhi kebijakan mandatori penggunaan biodiesel B50. Ancaman ini disampaikan Bahlil langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat peluncuran program B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek pada Kamis lalu.
Bahlil mengungkapkan bahwa pada awalnya, sejumlah pelaku usaha sempat menunjukkan keberatan. Alasan utama mereka adalah harga B50 yang diklaim lebih mahal dibandingkan bahan bakar konvensional. Namun, pemerintah tetap teguh mendorong implementasi kebijakan ini, menekankan bahwa B50 merupakan produk asli dalam negeri yang krusial untuk memangkas ketergantungan Indonesia pada impor energi.

"Saya sudah bilang, kalau kalian tidak pakai B50, RKAB-nya saya tinjau," ujar Bahlil dengan nada bercanda namun tegas, mengindikasikan tidak akan ada toleransi bagi alasan penolakan. Ia menambahkan, "Ini harus kita pakai produk dalam negeri, jangan asing-asing terus." Pernyataan ini sekaligus menyoroti pentingnya dukungan terhadap produk domestik demi kemandirian energi nasional.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa B50 bukan sekadar campuran bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati. Lebih dari itu, B50 adalah simbol keberanian pemerintah dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alam domestik untuk memperkuat ketahanan energi bangsa. Saat ini, penggunaan B50 telah mencapai 56 persen dari total solar yang beredar. Dalam beberapa bulan ke depan, setelah masa transisi B40 berakhir, seluruh penggunaan solar di Indonesia akan beralih sepenuhnya ke B50.
Selain sukses dengan B50, Bahlil juga melaporkan kepada Presiden tentang persiapan program mandatori etanol untuk bahan bakar bensin. Program ini direncanakan akan dimulai pada tahun 2027, dengan target awal campuran etanol sebesar 10 hingga 20 persen. Bahan baku utama untuk produksi etanol akan berasal dari komoditas pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung. Pengembangan program ini akan melibatkan sinergi antara Danantara, Pertamina, dan sektor swasta.
"Dengan keberhasilan B50, kita ingin mencontohnya untuk bensin, yaitu etanol," pungkas Bahlil, menunjukkan optimisme pemerintah dalam memperluas penggunaan energi terbarukan berbasis nabati di berbagai sektor.


