Faktual.news – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan menyatakan sikap tegas terkait wacana pengadaan Kereta Rel Listrik (KRL) dari luar negeri. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan harapannya agar Indonesia tidak perlu mengambil langkah untuk mengimpor rangkaian KRL bekas dari Jepang. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa industri manufaktur dalam negeri saat ini sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi kereta sendiri.
Hingga saat ini, pihak Kementerian Perdagangan mengonfirmasi bahwa belum ada permohonan resmi yang masuk terkait rencana impor armada kereta bekas tersebut. Budi menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut, namun ia menekankan pentingnya mengutamakan produk lokal guna memperkuat sektor industri nasional.

"Harapan kami, produksi dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga tidak perlu ada impor barang bekas. Namun, sampai saat ini kami belum menerima pengajuan apa pun," ujar Budi saat memberikan keterangan di kawasan ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10).
Budi juga menambahkan bahwa koordinasi lintas kementerian terus berjalan. Ia menyebutkan bahwa Kementerian Perindustrian pun hingga kini belum mengajukan permintaan resmi terkait kebutuhan impor KRL bekas tersebut. Meski demikian, Budi tidak menutup kemungkinan jika di masa depan terdapat pengajuan, karena semua proses harus melalui mekanisme regulasi yang ketat.
Perlu diketahui bahwa impor kereta bekas merupakan kategori barang yang pengadaannya diatur secara khusus dalam regulasi perdagangan. Artinya, setiap rencana pengadaan harus memenuhi persyaratan tambahan yang sangat spesifik serta wajib mendapatkan rekomendasi dari kementerian teknis terkait. Salah satu aturan yang berlaku saat ini adalah menetapkan batas usia pakai maksimal 20 tahun bagi kereta bekas yang masuk ke Indonesia.
Sebelumnya, isu impor KRL bekas ini mencuat menyusul usulan dari Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin. Bobby sempat mengusulkan impor kereta bekas dari Jepang sebagai solusi jangka pendek atau bridging untuk mengatasi lonjakan kebutuhan sarana transportasi di wilayah Jabodetabek.
Menurut Bobby, pertumbuhan jumlah penumpang KRL Jabodetabek mengalami kenaikan signifikan sebesar 11,3 persen pada semester I 2026 dibandingkan periode tahun sebelumnya. Lonjakan ini membuat jumlah penumpang harian yang sebelumnya di bawah satu juta orang, kini telah menembus angka 1,1 juta orang.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa rata-rata usia armada kereta yang saat ini dioperasikan oleh KAI sudah mencapai lebih dari 41 tahun. Kondisi armada yang sudah tua tersebut menuntut adanya penggantian rangkaian secara cepat, sementara kapasitas produksi industri dalam negeri masih dalam tahap peningkatan.
"Sebagai solusi transisi untuk memenuhi kebutuhan sarana dalam 10 tahun ke depan, kami mengusulkan untuk melakukan impor kereta bekas dari Jepang," ungkap Bobby dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI beberapa waktu lalu.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah untuk menyeimbangkan antara kebutuhan mendesak akan armada transportasi yang layak dengan komitmen untuk mendukung kemandirian industri manufaktur dalam negeri.


