faktual.news – Pengadilan Tiongkok baru-baru ini menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Hui Ka Yan, sosok di balik raksasa properti Evergrande Group. Keputusan ini menandai akhir dari perjalanan seorang taipan yang pernah menduduki puncak kekayaan, setelah sebelumnya mengakui delapan dakwaan berat, termasuk penipuan dan penyuapan.
Siapa sebenarnya Hui Ka Yan dan bagaimana ia bisa mencapai titik ini? Kisah hidupnya dimulai dari latar belakang yang jauh dari kemewahan. Lahir di Henan, Tiongkok, ia tumbuh dalam garis kemiskinan ekstrem. Ayahnya, seorang purnawirawan tentara yang berjuang di Perang Tiongkok-Jepang II, kemudian menyambung hidup sebagai pedagang. Kehilangan ibunya saat masih bayi, Hui dibesarkan oleh neneknya.

Setelah menamatkan pendidikan menengah, Hui sempat bekerja di pabrik semen, bahkan menunjukkan kepemimpinan dengan menjadi kepala tim produksi. Namun, takdir membawanya ke dunia properti yang kelak mengubah hidupnya secara drastis. Pada tahun 1996, ia mendirikan Evergrande di Guangzhou. Dengan strategi ekspansi yang sangat agresif dan didukung oleh pinjaman besar, ia berhasil membawa perusahaannya melantai di bursa saham.
Di bawah kepemimpinannya, Evergrande melesat menjadi salah satu pengembang properti terbesar di Tiongkok, dengan ribuan proyek tersebar di berbagai wilayah. Kapitalisasi pasar perusahaan ini bahkan pernah menyentuh angka fantastis, melampaui US$50 miliar atau sekitar Rp884,25 triliun. Tak hanya properti, Hui juga merambah sektor lain. Pada 2010, ia mengakuisisi klub sepak bola Guangzhou, menyuntikkan dana besar untuk pemain dan pelatih kelas dunia, dan berhasil membawa tim tersebut meraih tiga gelar liga.
Berkat kerajaan bisnisnya yang menggurita dari properti, otomotif, hingga sepak bola, Hui Ka Yan sempat dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di Tiongkok, bahkan menyandang predikat orang terkaya di Asia versi Forbes pada 2017 dengan kekayaan mencapai US$45,3 miliar. Ia juga dikenal aktif membangun relasi dengan tokoh-tokoh bisnis terkemuka.
Namun, strategi ekspansi yang terlalu bergantung pada utang menjadi bumerang. Perusahaan terus memperluas bisnisnya dengan sokongan pinjaman, tidak hanya untuk properti tetapi juga untuk berbagai sektor lainnya. Model bisnis ini, yang pada awalnya mendorong pertumbuhan pesat, akhirnya menjadi penyebab keruntuhan. Kekayaan Hui anjlok drastis, diperkirakan hanya tersisa sekitar US$3 miliar pada 2023, sebelum akhirnya ia harus menghadapi jerat hukum dan vonis seumur hidup yang mengakhiri era keemasannya.


