faktual.news – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang juga memimpin Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), baru-baru ini menyuarakan optimisme terkait ketahanan ekonomi nasional. Ia memastikan bahwa fondasi stabilitas sistem keuangan Indonesia akan tetap kokoh hingga paruh pertama tahun 2026, bahkan di tengah gempuran turbulensi global yang penuh ketidakpastian. Ini bukan sekadar janji, melainkan hasil dari strategi terpadu yang telah dijalankan dengan cermat.
Dalam pertemuan KSSK bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Jakarta, Purbaya menegaskan bahwa di saat dunia dilanda perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik yang memanas, serta volatilitas pasar keuangan yang tinggi, kondisi ekonomi dan stabilitas keuangan domestik Indonesia justru menunjukkan performa yang impresif. "Kekuatan ini lahir dari kolaborasi apik antara kebijakan fiskal, moneter, sektor jasa keuangan, dan sistem penjaminan simpanan yang terus kami perkuat melalui koordinasi intensif di dalam KSSK," jelas Purbaya.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terbukti menjadi perisai utama dalam menjaga stabilitas sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi. Hingga pertengahan tahun ini, APBN mencatatkan kinerja gemilang. Pendapatan negara melonjak 21,4 persen secara tahunan, sementara belanja negara juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 17,8 persen. Lebih lanjut, keseimbangan primer tetap surplus, dan defisit APBN berhasil dikendalikan, dengan proyeksi mencapai 2,85 persen terhadap PDB di akhir tahun.
Pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai instrumen fiskal terus dimaksimalkan untuk mengukuhkan ketahanan ekonomi. Langkah-langkah strategis meliputi penempatan uang negara pada bank umum untuk menjaga likuiditas pasar, penguatan peran APBN sebagai penstabil harga BBM dan pangan, serta pemberian serangkaian stimulus yang memberi angin segar bagi dunia usaha dan mendorong akselerasi ekonomi. Stimulus tersebut mencakup diskon transportasi, insentif impor LPG dan plastik, relaksasi iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), dukungan khusus untuk sektor pariwisata dan industri padat karya, hingga program magang dan vokasi.
Ke depan, KSSK berkomitmen untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala potensi risiko, baik dari kancah global maupun domestik. Purbaya menekankan pentingnya sinergi kebijakan yang lebih erat antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan. "Melalui koordinasi yang solid, kami memastikan setiap kebijakan saling melengkapi dan memperkuat, demi menjaga kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang merata, lestari, dan berketahanan tinggi untuk kesejahteraan masyarakat," pungkas Purbaya.


