faktual.news – Guncangan gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) lalu tak membuat layanan transportasi udara lumpuh. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan sigap memastikan seluruh bandara di Flores dan sekitarnya tetap berdenyut normal. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa semua penerbangan tetap berjalan, dengan fokus utama pada jaminan keselamatan dan keamanan bagi seluruh pengguna jasa.
Hasil inspeksi menyeluruh oleh tim Kemenhub di lapangan mengonfirmasi tidak ada satupun bandara yang ditutup total akibat dampak gempa. Ini berarti, seluruh fasilitas udara siap melayani berbagai keperluan, mulai dari pergerakan masyarakat umum, distribusi bantuan kemanusiaan, pengiriman logistik vital, hingga mendukung upaya penanganan pascabencana yang sedang berlangsung.

Lukman menambahkan, untuk area-area yang teridentifikasi berpotensi menimbulkan risiko, langkah mitigasi cepat telah diterapkan. Pembatasan akses bagi pengguna jasa diberlakukan secara selektif, tanpa sedikit pun mengganggu kelancaran operasional penerbangan secara keseluruhan. "Keselamatan adalah harga mati dan prioritas utama kami," tegasnya.
Meski demikian, laporan Kemenhub juga mencatat adanya beberapa kerusakan minor pada sejumlah fasilitas bandara, meliputi bagian terminal, kantor, menara kontrol, dan sarana penunjang lainnya. Namun, semua kerusakan tersebut telah ditangani dengan cepat melalui langkah mitigasi dan pengamanan yang ketat, memastikan pelayanan penerbangan tetap berjalan tanpa hambatan berarti.
Berikut rincian kondisi terkini di beberapa bandara terdampak:
Di Bandara Komodo Labuan Bajo, tim menemukan kerusakan pada plafon terminal dan stasiun pemadam kebakaran, retakan di dinding gedung administrasi, serta keretakan memanjang di fillet Taxiway A. Setelah pembersihan menyeluruh, operasional penerbangan kembali normal, dan menara kontrol kini berfungsi optimal setelah sempat didukung perangkat VHF-A/G portabel.
Sementara itu, Bandara H Hasan Aroeboesman di Ende melaporkan kerusakan plafon terminal dan retakan pada dinding gedung PKP-PK serta struktur menara. Area terminal telah dibersihkan, dan layanan lalu lintas udara kini diampu melalui skema kontingensi dengan memindahkan komunikasi ke Watchroom Gedung PKP-PK, memastikan penerbangan tetap aman.
Bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu mengalami kerusakan pada partisi dinding kaca di lantai dua gedung terminal. Perbaikan struktur sedang berjalan, dan mitigasi risiko dilakukan dengan mengamankan serta membatasi akses di area yang berpotensi membahayakan. Meski demikian, operasional bandara dan navigasi penerbangan berjalan normal seperti biasa.
Di Bandara Frans Sales Lega Ruteng, kerusakan meliputi arsitektur ACP terminal, plafon ruang rapat/kantor, dinding PKP-PK, dan menara. Proses pembersihan area terminal serta evaluasi struktur lanjutan terus dilakukan. Sisi udara dipastikan aman dan siap melayani penerbangan.
Bandara Fransiskus Xaverius Seda Maumere hanya mengalami kerusakan ringan pada plafon dan kaca terminal lantai dua. Sisi udara, termasuk landasan pacu dan apron, dilaporkan dalam kondisi prima. Bandara ini bahkan menjadi titik vital untuk pergerakan bantuan serta mobilisasi unsur pemerintah, termasuk perjalanan Presiden Republik Indonesia dan jajaran TNI/Polri.
Terakhir, Bandara Soa Bajawa mencatat kerusakan pada plafon dan kaca terminal, retakan pada dinding/kolom beberapa bangunan, serta retak memanjang di landasan pacu. Mitigasi dilakukan dengan pembersihan material, pengamanan peralatan, penggunaan VHF-A/G portabel, dan penempatan armada PKP-PK di luar gedung sebagai langkah antisipasi gempa susulan. Pelayanan penerbangan tetap berlangsung dengan pembatasan akses di area berisiko.
Lukman kembali menegaskan, meskipun bandara beroperasi normal, maskapai penerbangan tetap memiliki otoritas penuh untuk mengevaluasi operasional dan menyesuaikan jadwal penerbangan. Hal ini termasuk kemungkinan penundaan atau pembatalan, jika hasil penilaian internal mereka mengindikasikan perlunya tindakan tersebut demi menjamin keselamatan penumpang dan kru.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, AirNav Indonesia, TNI/Polri, BNPB, Basarnas, serta pemerintah daerah terus menjalin koordinasi intensif. Tujuannya adalah memastikan keselamatan penerbangan selalu terjaga dan bandara-bandara di NTT senantiasa siap mendukung kebutuhan masyarakat serta upaya penanganan dampak gempa.


