Faktual.news – Kondisi harga pangan di sejumlah wilayah Indonesia kini tengah berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya lonjakan harga komoditas cabai rawit yang sangat drastis, bahkan menembus angka fantastis di beberapa provinsi.
Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) untuk komoditas cabai rawit di Provinsi Gorontalo tercatat mencapai angka 272,87 persen. Angka ini diikuti oleh Sulawesi Utara yang mengalami kenaikan sebesar 269,10 persen. Tak hanya itu, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat juga tidak luput dari tren kenaikan harga yang ekstrem, masing-masing sebesar 262,66 persen dan 202,11 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa meskipun kenaikan harga secara bulanan (month-to-month) mulai menunjukkan tanda-tanda melandai, namun level harga yang sudah terlanjur tinggi membuat angka inflasi tahunan tetap membengkak.
"Meskipun inflasi bulanan di Gorontalo tercatat 3,91 persen dan Sulawesi Utara 1,64 persen, ini tetap menunjukkan adanya kenaikan harga. Karena harga dasarnya sudah sangat tinggi, maka secara tahunan angkanya tetap melonjak di atas 200 persen," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (3/11).
Ateng menekankan pentingnya perhatian serius dari pemerintah daerah dalam menghadapi akhir tahun. Penurunan inflasi bulanan yang kecil belum tentu mampu menarik turun angka inflasi tahunan secara signifikan jika harga komoditas di pasar masih tertahan di level tinggi.
Selain cabai rawit, BPS juga menyoroti fluktuasi harga minyak goreng. Secara nasional, minyak goreng sebenarnya mengalami deflasi bulanan sebesar 0,44 persen pada Oktober 2026. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, harga minyak goreng masih mencatat inflasi tahunan sebesar 9,39 persen.
Kondisi ini terjadi karena perbedaan periode acuan. Penurunan harga dalam satu bulan tidak serta-merta menghapus jejak kenaikan harga yang telah terjadi sepanjang tahun. Beberapa wilayah seperti Sulawesi Tenggara, Lampung, hingga Nusa Tenggara Barat bahkan mencatat inflasi minyak goreng hingga dua digit.
Sektor perikanan juga menjadi penyumbang inflasi yang cukup signifikan, terutama di kawasan Indonesia Timur. Papua mencatat inflasi ikan segar tertinggi sebesar 20,03 persen, disusul oleh Papua Tengah dan Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara, selain cabai rawit, kenaikan harga ikan seperti malugis dan cakalang, serta tarif angkutan udara, turut mendorong laju inflasi di wilayah tersebut.
Terakhir, BPS memberikan peringatan khusus terkait komoditas beras. Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, inflasi beras masih berada di kisaran 17 persen dan 12 persen. Mengingat beras memiliki bobot yang sangat besar dalam perhitungan inflasi nasional, stabilitas harga beras menjadi kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat hingga akhir tahun.


