faktual.news – Kebijakan suku bunga tinggi Bank Indonesia (BI) kembali menjadi sorotan tajam. Langkah bank sentral yang mengerek BI Rate hingga 5,75 persen per 18 Juni lalu, memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha, khususnya sektor manufaktur dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Mereka kini harus berhadapan dengan lonjakan biaya pinjaman yang kian mencekik.
Kenaikan suku bunga acuan sebesar 1 persen dari level 4,75 persen yang bertahan selama tujuh bulan ini, diambil BI sebagai benteng pertahanan nilai tukar rupiah di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah yang tak menentu. Selain itu, ini juga merupakan langkah antisipatif untuk menjaga inflasi tahun 2026-2027 tetap dalam target pemerintah, yakni 2,5 plus minus 1 persen. Namun, muncul pertanyaan krusial: haruskah stabilitas rupiah dibayar mahal dengan mengorbankan laju ekspansi dunia usaha?

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menyebut situasi ini sebagai dilema klasik dalam ranah kebijakan moneter. Stabilitas rupiah memang esensial, namun ia memperingatkan agar tidak sampai menghimpit sektor riil secara berlebihan. Menurut Ronny, suku bunga yang terlalu tinggi dalam jangka waktu panjang bukan hanya memperlambat pertumbuhan bisnis, melainkan juga dapat menekan investasi baru, memperburuk likuiditas perusahaan, dan pada akhirnya mengganggu penciptaan lapangan kerja.
"Dalam konteks sekarang, kebijakan bunga tinggi memang membantu menjaga rupiah dan meredam tekanan eksternal. Tapi, jika terlalu defensif, kita berisiko terjebak dalam kondisi ekonomi yang ‘stabil namun stagnan’," ungkap Ronny kepada faktual.news. Ia menekankan pentingnya menemukan titik keseimbangan agar stabilitas tidak menjadi tujuan tunggal yang mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Ronny menambahkan, BI tidak bisa bekerja sendiri. Stabilitas rupiah tidak harus selalu dipertahankan hanya dengan instrumen bunga tinggi. Ada ruang bagi BI untuk mengoptimalkan perangkat lain seperti intervensi valuta asing, operasi moneter, atau kebijakan makroprudensial yang lebih fleksibel untuk sektor produktif. "Misalnya, memberikan insentif likuiditas atau relaksasi kredit bagi sektor tertentu agar tetap bisa berkembang meski suku bunga tinggi," jelasnya.
Peran pemerintah juga sangat vital. Pemerintah perlu memastikan sektor riil tetap berdenyut melalui stimulus fiskal yang lebih terarah, insentif pajak untuk industri padat karya, serta dukungan pembiayaan bagi UMKM. Selain itu, reformasi struktural seperti efisiensi logistik, kepastian regulasi, dan kemudahan berusaha harus dipercepat. Langkah ini diharapkan dapat mengimbangi beban biaya tinggi akibat suku bunga. "Kondisi ini menunjukkan kita terlalu bergantung pada suku bunga sebagai ‘senjata utama’ menjaga stabilitas. Padahal, jika koordinasi kebijakan fiskal dan moneter lebih kuat, tekanan terhadap rupiah bisa dikelola tanpa membuat sektor riil megap-megap," tegas Ronny.
Di sisi lain, Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berpandangan bahwa langkah BI mengerek dan menahan suku bunga di level tinggi di tengah tekanan eksternal adalah untuk menjaga kredibilitas kebijakan, bukan semata-mata pengetatan moneter. Yusuf menilai stabilitas nilai tukar justru menjadi prasyarat mutlak bagi kelangsungan dunia usaha. Terlebih, industri manufaktur dalam negeri masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang modal.
"Jika rupiah melemah terlalu tajam, biaya produksi akan melonjak, inflasi impor meningkat, dan pada akhirnya suku bunga justru harus dinaikkan lebih tinggi lagi," papar Yusuf. Ia mengingatkan, berdasarkan pengalaman masa lalu, biaya yang ditanggung akibat terlambat merespons gejolak eksternal jauh lebih besar daripada mengambil tindakan antisipatif sejak awal.
Meskipun demikian, Yusuf tidak menampik bahwa dampak rem moneter ini sudah mulai terasa di sektor riil. "Aktivitas manufaktur masih lesu, ekspor melambat, dan pertumbuhan kredit UMKM nyaris stagnan. Ini bukan sinyal krisis, tetapi peringatan nyata bahwa dunia usaha sedang menghadapi tekanan," pungkasnya.


