faktual.news – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meluncurkan sebuah inisiatif ambisius yang digadang-gadang akan mengubah peta energi nasional. Setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto, Amran membeberkan rencana besar untuk membuka lahan seluas 1 hingga 2 juta hektare. Langkah strategis ini bertujuan mendukung produksi etanol dari tebu, singkong, dan jagung, guna mewujudkan target bauran bahan bakar E20 pada tahun 2029.
Program ini bukan sekadar wacana. Amran menegaskan, konsolidasi telah dimulai dengan dukungan kuat dari 44 bupati yang menyatakan kesiapan daerahnya. Kebutuhan lahan terbesar dialokasikan untuk tebu, mencapai sekitar 1 juta hektare. "Kita akan bangun pabriknya, kita gerakan masif seluruh Indonesia," ujar Amran, menandaskan keseriusan pemerintah dalam menggarap komoditas strategis ini secara bertahap. Dukungan alat dan mesin pertanian modern juga akan digelontorkan, termasuk uji coba penanaman jagung di berbagai wilayah.

Menariknya, Amran memastikan bahwa pembukaan lahan tidak serta-merta mengorbankan hutan. Prioritas utama adalah memanfaatkan area yang sudah tersedia, seperti lahan untuk agroforestri, tanaman pangan, atau lahan yang telah dilepaskan. Ada sekitar 20 juta hektare lahan potensial yang bisa diseleksi, termasuk 1,3 juta hektare lahan dilepaskan yang akan dikaji kesesuaiannya. Opsi pelepasan kawasan hutan akan menjadi pilihan terakhir, itupun dengan pertimbangan ketat terhadap aspek lingkungan.
Untuk skema pembiayaan pabrik etanol, pemerintah berupaya melibatkan BUMN dan swasta. Porsi BUMN diharapkan dapat mencapai 30 hingga 50 persen, sementara sisanya akan diisi oleh swasta. Amran optimis swasta akan tertarik, mengingat kepastian lahan akan disiapkan oleh negara. Pengalaman menunjukkan, dengan pengawalan pemerintah dalam penyiapan lahan, pembangunan pabrik dapat rampung dalam dua hingga tiga tahun.
Proyek raksasa ini akan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari implementasi E5, E10, hingga mencapai E20 pada 2029. Bahkan, Amran memprediksi bauran etanol bisa ditingkatkan hingga E40 pada tahun 2030 atau 2031. Jika program etanol dan biodiesel B50 ini berjalan optimal, Indonesia diperkirakan mampu menghemat devisa hingga US$30 miliar atau sekitar Rp500 triliun setiap tahun. Lebih dari itu, program ini berpotensi menciptakan sedikitnya 8 juta lapangan kerja permanen, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengembangan komoditas bahan baku energi.
Amran menambahkan, kolaborasi erat dengan pemerintah kabupaten serta kementerian dan lembaga terkait menjadi kunci sukses implementasi di daerah. Konsolidasi awal telah dilakukan dengan Kementerian Kehutanan dan BUMN. "Kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi," pungkas Amran, optimis penanaman dapat dimulai tahun ini, demi mewujudkan kemandirian energi dan keberlanjutan lingkungan.


