Close Menu
Faktual News

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    DPR Dorong Pemerataan! Lulusan LPDP Wajib Mengabdi di 3T?

    25-05-2026 - 21.20

    UMKM Wajib Tahu! BCA Fest 2026: Panggung Bisnis & Budaya

    25-05-2026 - 14.20

    Serbu Sekarang! Kulkas & Mesin Cuci Banting Harga di Transmart

    25-05-2026 - 05.20
    FacebookX (Twitter)Instagram
    Faktual NewsFaktual News
    • Home
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Esports
    • Dunia
    Trending
    • DPR Dorong Pemerataan! Lulusan LPDP Wajib Mengabdi di 3T?
    • UMKM Wajib Tahu! BCA Fest 2026: Panggung Bisnis & Budaya
    • Serbu Sekarang! Kulkas & Mesin Cuci Banting Harga di Transmart
    • Rahasia Rp85 Triliun Michael Saylor: Ancaman Nyata Elon Musk?
    • Mengejutkan! Isu Data Bocor, Bank Ternyata Paling Aman?
    • Pendapatan Ojol Melonjak? Seskab & GoTo Bahas Angka Fantastis!
    • CT & Bos BRI Bongkar Strategi Keuangan Masa Depan di Jogja!
    • Jangan Kaget! Hotel Bintang 5 Bisa Murah Pakai Cara Ini!
    Faktual News
    Home - Market - "Obat Pahit" BEI: Puluhan Emiten di Ujung Tanduk Delisting?
    Market

    "Obat Pahit" BEI: Puluhan Emiten di Ujung Tanduk Delisting?

    04-04-2026 - 14.2003 Mins Read1
    "Obat Pahit" BEI: Puluhan Emiten di Ujung Tanduk Delisting?

    Faktual News , Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah resmi memberlakukan kebijakan baru yang berpotensi mengguncang sejumlah emiten di pasar modal Tanah Air. Aturan free float minimal 15% dan transparansi informasi terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi kini diterapkan, memicu kekhawatiran delisting bagi perusahaan yang tak mampu memenuhi standar.

    Langkah ini merupakan bagian integral dari reformasi pasar modal Indonesia yang digagas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tujuannya jelas: meningkatkan transparansi dan memberikan peringatan dini yang lebih efektif bagi investor. Selain itu, kebijakan free float 15% secara resmi berlaku bagi seluruh emiten yang tercatat di BEI.

    "Obat Pahit" BEI: Puluhan Emiten di Ujung Tanduk Delisting?
    Gambar Istimewa : haluannews.id

    Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, tidak menampik adanya potensi delisting bagi beberapa emiten yang gagal memenuhi kualifikasi terbaru ini. "Potensi ada. Kita harus melihat momen ini sebagai momentum sangat baik untuk melakukan perbaikan," ujarnya setelah konferensi pers Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di gedung BEI Jakarta, Kamis (2/4/2026).

    Jeffrey menyebut potensi delisting sebagai "efek samping" dari "obat pahit" jangka pendek, yang pada akhirnya akan membawa kesehatan jangka panjang bagi pasar modal. Ia mengakui kemungkinan penurunan bobot untuk saham-saham Indonesia berdasarkan hasil analisis granularisasi data atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi. Namun, ia optimis, "Tapi, kita yakin untuk jangka panjang, itu baik bagi pasar kita dan membuat bobot kita jauh lebih tinggi."

    BEI, lanjut Jeffrey, telah siap menghadapi skenario penurunan bobot nilai dari para penyedia indeks global jika hal itu benar-benar terjadi menimpa saham-saham Indonesia. Menurutnya, ini adalah bagian dari komitmen BEI dalam meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal nasional. Ia optimis pasar akan memiliki pandangan jangka panjang yang positif. "Pasar itu kan selalu forward looking. Bila pasar meyakini, untuk jangka panjang ini adalah sesuatu yang baik, saya kira pasar akan merespons secara positif," paparnya. Ia menekankan, diterapkannya sistem tata kelola pasar modal yang baru ini bukan untuk menciptakan volatilitas, melainkan murni untuk meningkatkan transparansi dan kualitas tata kelola, demi menyetarakan bursa saham Indonesia dengan bursa global.

    Terkait pemenuhan syarat free float 15%, Jeffrey merinci data terkini: terdapat 16 emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun yang free float-nya masih di bawah 12,5%. Sementara itu, 68 emiten lain dengan kapitalisasi pasar serupa memiliki free float antara 12,5% hingga 15%. Pihaknya terus fokus pada perusahaan-perusahaan yang belum memenuhi standar ini, mengingat para emiten tersebut hanya diberikan tenggat waktu selama tahun pertama implementasi kebijakan untuk memenuhi standar 15% tersebut.

    "Kita juga sudah memutuskan untuk mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. Jadi, untuk jumlah penawaran umum perdana saham (IPO), mungkin nanti kita review," imbuh Jeffrey, mengisyaratkan adanya peninjauan ulang terhadap kebijakan IPO di masa mendatang.

    Sebagai informasi, kebijakan ini merupakan bagian integral dari empat inisiatif strategis reformasi pasar modal nasional yang telah dirampungkan OJK, BEI, dan KSEI. Inisiatif tersebut meliputi:

    1. Transparansi kepemilikan saham melalui publikasi data pemegang saham di atas 1% untuk seluruh emiten, yang diperbarui setiap akhir bulan dan dipublikasikan pada awal bulan berikutnya.
    2. Peningkatan kualitas data investor, yang mulai dipublikasikan sejak 1 April 2026.
    3. Penguatan kebijakan free float, termasuk penyesuaian definisi yang mengacu pada praktik global serta peningkatan batas minimal saham beredar di publik.
    4. Penerapan mekanisme high shareholding concentration yang memberikan informasi tambahan mengenai saham dengan kepemilikan terkonsentrasi sebagai sistem peringatan dini bagi investor.
    Ikuti Kami di Google News
    Share.FacebookTelegramWhatsAppCopy Link
    Putrawan Dian
    Putrawan Dian

      kontributor Faktual News yang mengkhususkan diri dalam pelaporan kategori Market dan Ekonomi Makro. Ia menyajikan analisis mendalam mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, dan kebijakan moneter yang memengaruhi pasar keuangan.

      Baca Juga

      DPR Dorong Pemerataan! Lulusan LPDP Wajib Mengabdi di 3T?

      25-05-2026 - 21.20

      UMKM Wajib Tahu! BCA Fest 2026: Panggung Bisnis & Budaya

      25-05-2026 - 14.20

      Serbu Sekarang! Kulkas & Mesin Cuci Banting Harga di Transmart

      25-05-2026 - 05.20

      Rahasia Rp85 Triliun Michael Saylor: Ancaman Nyata Elon Musk?

      24-05-2026 - 21.20

      Mengejutkan! Isu Data Bocor, Bank Ternyata Paling Aman?

      24-05-2026 - 14.20

      Pendapatan Ojol Melonjak? Seskab & GoTo Bahas Angka Fantastis!

      24-05-2026 - 05.20
      Add A Comment
      Leave A ReplyCancel Reply

      Recent Posts

      • DPR Dorong Pemerataan! Lulusan LPDP Wajib Mengabdi di 3T?
      • UMKM Wajib Tahu! BCA Fest 2026: Panggung Bisnis & Budaya
      • Serbu Sekarang! Kulkas & Mesin Cuci Banting Harga di Transmart
      • Rahasia Rp85 Triliun Michael Saylor: Ancaman Nyata Elon Musk?
      • Mengejutkan! Isu Data Bocor, Bank Ternyata Paling Aman?

      Recent Comments

      Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

      Archives

      • Mei 2026
      • April 2026
      • Maret 2026
      • Februari 2026
      • Januari 2026
      • Desember 2025
      • November 2025
      • Oktober 2025
      • September 2025
      • Agustus 2025
      • Juli 2025
      • Juni 2025
      • Mei 2025
      • April 2025

      Categories

      • Dunia
      • Esports
      • Market
      • Olahraga
      • Sepakbola
      Faktual News
      • Home
      • Redaksi
      • Pedoman Media Siber
      • Privacy Policy
      • Disklaimer
      • Kontak
      • Tentang Kami
      © 2026 faktual.news | KR Network

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.