Faktual.news – Pergerakan harga saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) belakangan ini tengah menjadi sorotan tajam para pelaku pasar. Emiten energi terbarukan dengan kode saham PGEO ini mengalami tekanan harga yang cukup signifikan, yang diduga kuat berkaitan erat dengan dinamika pasar modal nasional akibat sentimen global dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini dalam acara Media Briefing Laporan Keuangan Kuartal III-2026 yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu (4/11). Menurut Yani, fluktuasi yang terjadi pada saham PGEO merupakan dampak dari kondisi pasar Indonesia secara keseluruhan yang sedang mengalami guncangan akibat usulan reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Dalam keterangannya, Yani mengungkapkan bahwa sejak awal tahun hingga akhir tahun lalu, saham perusahaan sempat mengalami koreksi sekitar 8,89 persen. Namun, pada perdagangan terbaru, tekanan tersebut semakin terasa dengan saham PGEO ditutup di level Rp965, yang berarti mengalami penurunan sebesar 14,6 persen sejak awal tahun berjalan.
Meski angka penurunan tersebut terlihat cukup mengkhawatirkan bagi para pemegang saham, Ahmad Yani menegaskan bahwa kondisi pasar ini sama sekali tidak mengganggu kesehatan finansial perusahaan. Ia menjamin bahwa sentimen negatif dari MSCI tidak akan mengubah peta jalan atau rencana ekspansi bisnis yang telah disusun oleh manajemen.
"Inilah realitas kondisi pasar di Indonesia saat ini. Namun, perlu digarisbawahi bahwa situasi ini tidak memberikan dampak negatif terhadap fundamental PGE, juga tidak mengganggu rencana pertumbuhan jangka panjang kami," tegas Yani di hadapan awak media.
Ketangguhan fundamental PGE justru terlihat dari pencapaian operasionalnya yang justru mencetak rekor baru. Hingga kuartal ketiga tahun ini, pembangkitan listrik dari operasi mandiri perusahaan telah mencapai 4.113 GWh. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil memenuhi 78 persen dari total target tahunan 2026. Efisiensi operasional juga terlihat dari capacity factor yang mencapai 89,9 persen dan availability factor yang sangat tinggi di angka 98,51 persen.
Selain aspek teknis, kontribusi lingkungan PGE juga sangat signifikan dengan mencatatkan penghindaran emisi sebesar 3,48 juta ton setara karbon dioksida (tonCO2eq) dibandingkan jika menggunakan pembangkit batu bara.
Secara finansial, kinerja operasional yang solid ini berbanding lurus dengan perolehan laba. Hingga September 2026, PGE berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$352,20 juta. Dari sisi profitabilitas, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$126,62 juta dengan EBITDA mencapai US$287,77 juta.
Sebagai konteks, gejolak pasar ini dipicu oleh usulan MSCI untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Hal ini memicu aksi jual masif oleh investor asing yang menyebabkan arus modal keluar (outflow) mencapai Rp94,87 triliun sepanjang tahun ini, yang pada akhirnya menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara drastis.


