Faktual.news – Pemerintah Indonesia tengah membidik ambisi besar untuk memperkuat posisi tawar di kancah geopolitik global melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA). Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa Indonesia perlu mencontoh strategi China dalam mengelola logam tanah jarang (rare earth metals) demi kepentingan nasional.
Menurut Bahlil, keberhasilan China dalam menguasai industri hilirisasi logam tanah jarang telah mengubah peta kekuatan dunia. Saat ini, komoditas tersebut bukan sekadar bahan baku industri, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen diplomasi yang sangat kuat dalam persaingan antara China dan Amerika Serikat. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan era 1980-an, di mana logam tanah jarang belum dianggap sebagai komponen krusial bagi kemajuan teknologi global.

Dalam acara Opening Ceremony Minerba Convex 2026 di Jakarta Pusat, Bahlil menekankan pentingnya mengubah paradigma pengelolaan SDA. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi penonton atau sekadar penyedia bahan mentah bagi negara lain. Pengelolaan kekayaan alam harus berlandaskan pada amanat Pasal 33 UUD 1945, di mana sumber daya alam harus dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Bahlil juga memberikan kritik tajam terhadap pola perdagangan lama yang menyerupai era kolonial. Ia mengibaratkan praktik ekspor bahan mentah sebagai pola yang digunakan VOC pada masa penjajahan Belanda, di mana bahan baku diambil dari bumi Indonesia, diolah di luar negeri, dan kemudian dijual kembali ke Indonesia. "Apakah kita masih akan memakai pola seperti itu?" tegasnya.
Sebagai bukti nyata keberhasilan hilirisasi, Bahlil memaparkan lonjakan fantastis pada sektor nikel. Sebelum kebijakan hilirisasi diperketat, nilai ekspor nikel Indonesia pada periode 2017-2019 hanya berkisar di angka US$3,3 miliar. Namun, setelah pemerintah melarang ekspor bijih nikel dan mewajibkan pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak drastis hingga mencapai angka US$33 miliar sampai US$34 miliar pada periode 2023-2024.
Keberhasilan di sektor nikel ini menjadi modal besar bagi Indonesia untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) yang terintegrasi secara penuh. Mulai dari tahap pertambangan, pembangunan smelter, penggunaan teknologi high pressure acid leaching (HPAL), hingga produksi prekursor, katoda, dan sel baterai. Saat ini, Indonesia bahkan sudah memiliki tiga pabrik baterai dan telah memasok produk prekursor serta katoda ke pasar Amerika Serikat.
Dengan kekayaan mineral yang melimpah—mulai dari cadangan nikel terbesar di dunia, peringkat keenam dunia untuk batu bara, hingga posisi sebagai eksportir timah terbesar—Indonesia memiliki potensi besar untuk menduplikasi kesuksesan China. Bahlil optimis bahwa dengan memperkuat hilirisasi pada komoditas lain, termasuk logam tanah jarang, Indonesia tidak hanya akan menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pemain kunci dalam rantai pasok teknologi dunia.


