Faktual.news – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pasar modal tanah air. Saat ini, otoritas bursa sedang melakukan kajian mendalam terkait efektivitas pemberian insentif pajak bagi perusahaan-perusahaan yang telah melantai di bursa atau emiten. Langkah evaluasi ini diambil guna memastikan apakah skema keringanan pajak yang ada selama ini benar-benar memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan tercatat.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa evaluasi ini sangat krusial untuk melihat sejauh mana kebijakan fiskal dapat menjadi stimulus nyata bagi para pelaku usaha di pasar modal. Dalam proses penelitiannya, BEI tidak bekerja sendirian. Mereka menggandeng konsultan pajak ternama, PT Dimensi International Tax (DDTC), untuk membedah efektivitas kebijakan tersebut melalui empat pilar utama insentif perpajakan.

"Bursa Efek Indonesia bersama dengan PT Dimensi International Tax telah menyelesaikan kajian untuk mengevaluasi efektivitas insentif pajak bagi perusahaan tercatat," ujar Jeffrey saat memberikan keterangan di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (2/11).
Secara teknis, saat ini terdapat fasilitas bagi emiten yang mampu memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu untuk mendapatkan potongan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar 3 persen. Melalui kajian ini, BEI berharap dapat merumuskan kebijakan yang lebih tajam agar daya tarik pasar modal Indonesia semakin meningkat, baik bagi perusahaan yang sudah ada maupun bagi calon emiten yang sedang bersiap melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Lebih dari sekadar urusan angka, Jeffrey menekankan bahwa fokus kajian pada empat pilar insentif ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance). Dengan tata kelola yang lebih baik, perusahaan tidak hanya akan menikmati keuntungan finansial dari insentif pajak, tetapi juga memiliki fondasi yang kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Sebagai bukti nyata manfaat dari ekosistem pasar modal, Jeffrey mencontohkan keberhasilan beberapa pelaku usaha skala kecil yang mampu berkembang pesat hingga naik kelas ke papan pencatatan yang lebih tinggi. Salah satu contoh sukses yang disorot adalah PT Trimegah Karya Pratama Tbk. Perusahaan ini merupakan emiten yang awalnya tercatat di papan akselerasi, namun berkat pertumbuhan bisnis yang solid, mereka berhasil naik ke papan pengembangan.
Keberhasilan PT Trimegah Karya Pratama Tbk dianggap sebagai representasi bahwa pasar modal bukan sekadar tempat mencari pendanaan jangka pendek. Sebaliknya, bursa adalah wadah bagi perusahaan untuk tumbuh secara organik dan berkelanjutan.
Jeffrey menegaskan bahwa komitmen BEI adalah mendampingi setiap perusahaan sejak tahap awal hingga mereka mampu bersaing di level global. "Fokus kami bukan hanya sekadar meningkatkan jumlah IPO, tetapi melahirkan perusahaan publik dengan fundamental kuat, tata kelola yang baik, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkasnya.


