Faktual.news – Fenomena alam El Nino yang memicu kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia ternyata tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga mulai mengancam kelancaran distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM). Kondisi cuaca ekstrem ini menyebabkan perubahan drastis pada kondisi geografis, terutama pada jalur transportasi air yang selama ini menjadi nadi utama pengiriman energi ke pelosok negeri.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa kekeringan panjang akibat El Nino telah menyebabkan pendangkalan parah di sejumlah sungai. Padahal, sungai-sungai tersebut merupakan jalur vital bagi kapal-kapal pengangkut BBM untuk mencapai titik-titik distribusi.

Akibat pendangkalan yang signifikan, PT Pertamina (Persero) terpaksa mengambil langkah darurat dengan mengubah strategi distribusi. Jalur air yang biasanya menjadi pilihan utama kini harus dialihkan ke jalur darat guna menghindari kapal-kapal pengangkut yang terdampar atau tidak bisa melintas akibat air yang surut.
"Kita mengalihkan dengan transportasi darat dan itu sebagian memakan waktu. Tapi sekalipun demikian, kita akan melakukan maksimal agar hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi lagi," tegas Bahlil saat memberikan keterangan pers di Terminal BBM Pesanggaran, Denpasar, Bali.
Langkah pengalihan moda transportasi ini memicu kekhawatiran terkait efisiensi waktu dan biaya. Kepala Pusat Energi dan Pangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, mengonfirmasi bahwa risiko gangguan distribusi akibat fenomena alam ini sangat nyata. Menurutnya, wilayah yang selama ini sangat bergantung pada jalur sungai akan menjadi yang paling rentan terdampak.
Abra menjelaskan bahwa peralihan dari jalur air ke jalur darat bukan tanpa konsekuensi. Penggunaan transportasi darat menuntut penambahan armada secara signifikan dan membutuhkan biaya operasional yang jauh lebih besar. Selain itu, waktu tempuh pengiriman menjadi lebih lama dibandingkan menggunakan jalur air, yang berpotensi memicu keterlambatan pasokan hingga risiko kelangkaan BBM di daerah-daerah tertentu.
Dari sisi ekonomi makro, hambatan distribusi BBM ini dapat memicu efek domino yang merugikan berbagai sektor. Jika pasokan solar tersendat, maka pergerakan logistik akan melambat dan mesin-mesin pertanian akan terganggu. Hal ini pada akhirnya akan memicu lonjakan biaya produksi dan distribusi barang di pasar.
"Risiko ini semakin besar karena El Nino juga dapat mengganggu produksi pangan," tambah Abra. Jika distribusi BBM terganggu dan produksi pangan menurun secara bersamaan, maka stabilitas ekonomi nasional bisa menjadi taruhannya. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah dan penyedia energi menjadi sangat krusial untuk memastikan ketahanan energi tetap terjaga di tengah tantangan iklim yang tidak menentu.


