Faktual.news – Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan kebijakan hilirisasi sumber daya alam guna meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Keberhasilan strategi ini mulai terlihat dari berbagai proyek strategis yang kini tengah berjalan, mulai dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik hingga pembangunan pabrik manufaktur otomotif berskala besar di tanah air.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, mengungkapkan bahwa implementasi hilirisasi bukan sekadar wacana, melainkan sudah masuk ke tahap eksekusi nyata yang berdampak luas. Salah satu bukti paling konkret adalah pengembangan kawasan industri di Weda Bay, Maluku Utara. Di wilayah tersebut, pemerintah telah memulai pembangunan 11 ekosistem hilirisasi nikel yang memiliki nilai investasi fantastis, yakni mencapai US$10,2 miliar atau setara dengan Rp180 triliun.

Dalam forum Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (13/10), Juda menjelaskan bahwa proyek di Weda Bay ini telah mencapai tonggak sejarah penting. Presiden baru-baru ini secara resmi meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan tersebut. Langkah ini menandai transformasi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global teknologi hijau.
Tak hanya di sektor nikel, keberhasilan hilirisasi juga merambah ke sektor manufaktur kendaraan listrik (EV). Juda menyoroti kehadiran pabrik perakitan mobil raksasa milik BYD di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Proyek yang dikelola oleh PT BYD Auto Indonesia ini menelan investasi sebesar Rp11,6 triliun.
Pabrik yang dijadwalkan beroperasi penuh pada September 2026 ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 150 ribu unit kendaraan per tahun. Lebih dari itu, kehadiran pabrik ini akan menjadi mesin pencipta lapangan kerja baru dengan potensi penyerapan lebih dari 20 ribu tenaga kerja lokal. Menurut Juda, langkah BYD ini memperluas cakupan industri nasional hingga ke tahap manufaktur kendaraan listrik yang lebih kompleks.
Lebih lanjut, Wamenkeu menekankan bahwa tujuan akhir dari seluruh rangkaian hilirisasi ini adalah untuk meningkatkan kompleksitas ekonomi Indonesia. Berdasarkan data dari Harvard Growth Lab, Indonesia saat ini menempati peringkat 69 dari 140 negara dalam hal kompleksitas ekonomi. Meskipun menunjukkan progres, posisi ini masih berada di bawah negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan India.
Ketertinggalan tersebut disebabkan karena sebagian besar komoditas ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk berbasis sumber daya alam mentah dengan nilai tambah yang rendah hingga menengah. Oleh karena itu, Juda mendorong sektor manufaktur nasional untuk terus bertransformasi menuju produksi barang yang membutuhkan teknologi tinggi dan keterampilan khusus.
"Dengan memperkuat sektor manufaktur ke arah produk bernilai tambah tinggi, kita tidak hanya bisa menjangkau pasar global yang lebih luas, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas yang mampu meningkatkan standar keterampilan sumber daya manusia kita," pungkas Juda.


