Faktual.news – Dunia aset digital global tengah menyoroti satu nama yang selama ini bergerak di balik bayang-bayang namun memiliki pengaruh yang sangat masif. Ia adalah Jean-Louis van der Velde, atau yang lebih akrab disapa JL van der Velde. Pria berkebangsaan Belanda ini bukan sekadar pengusaha biasa; ia adalah salah satu sosok paling enigmatik yang berhasil menembus jajaran orang terkaya di dunia versi Forbes.
Berdasarkan data terbaru, kekayaan JL van der Velde telah menyentuh angka fantastis sebesar US$38 miliar atau setara dengan Rp680,58 triliun. Dengan nilai aset yang luar biasa tersebut, ia berhasil mengamankan posisi sebagai orang terkaya ke-58 di planet ini. Kekayaan raksasa ini tidak datang dari ruang hampa, melainkan hasil dari kepiawaiannya mengelola pilar-pilar utama dalam ekosistem mata uang kripto.

Sumber kekayaan utama Van der Velde berasal dari kepemilikan saham serta peran strategisnya di dua entitas besar, yakni Tether dan bursa kripto Bitfinex. Tether sendiri merupakan penerbit koin USDT, sebuah stablecoin yang mendominasi pasar kripto global. Perusahaan ini mampu meraup keuntungan hingga miliaran dolar AS melalui pengelolaan cadangan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries) yang menjadi penjamin stabilitas nilai USDT. Sebagai pemegang saham utama, Van der Velde menikmati lonjakan nilai aset seiring dengan semakin masifnya adopsi aset digital di seluruh dunia.
Menilik perjalanan hidupnya, Van der Velde memiliki latar belakang yang sangat unik. Langkah besarnya dimulai pada tahun 1985 ketika ia memutuskan pindah ke Taiwan untuk menempuh pendidikan di National Taiwan Normal University. Keputusan ini menjadi titik balik penting karena ia menjadi sangat fasih berbahasa Mandarin, yang kemudian membuka jalan bagi karier panjangnya di kawasan Asia, khususnya di Taiwan dan Hong Kong.
Sebelum akhirnya terjun ke dunia blockchain yang penuh gejolak, ia telah membangun fondasi kuat selama lebih dari tiga dekade di industri teknologi. Ia adalah seorang visioner yang mendirikan berbagai startup, mulai dari desain perangkat keras (hardware design), sistem tertanam (embedded systems), hingga platform Internet Protocol Television (IPTV).
Memasuki era 2010-an, ia mulai menancapkan pengaruhnya di dunia kripto dengan menjabat sebagai CEO Bitfinex. Tak lama berselang, ia juga memegang kendali sebagai CEO Tether. Di bawah kepemimpinannya, USDT bertransformasi dari sebuah proyek eksperimental menjadi instrumen keuangan digital dengan volume transaksi mencapai puluhan miliar dolar setiap harinya. Meski pada tahun 2023 ia telah menyerahkan kursi CEO Tether kepada Paolo Ardonio dan kini lebih fokus sebagai penasihat strategis, pengaruhnya di Bitfinex tetap tak tergoyahkan.
Meskipun memiliki kekayaan yang mampu mengguncang ekonomi, Van der Velde tetap menjaga privasinya dengan sangat ketat. Ia dikenal sebagai sosok "misterius" karena sangat jarang muncul di panggung konferensi besar, enggan mengekspos diri di media sosial, dan sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Namun, di balik sifat tertutupnya, ia tetap berkontribusi pada dunia akademik, salah satunya dengan menjadi dosen tamu di National Taiwan University of Science and Technology untuk membagikan ilmunya mengenai teknologi blockchain dan regulasi industri.


