faktual.news – Dunia penerbangan Iran kini di ambang kelumpuhan total. Ancaman sanksi keras dari Amerika Serikat telah memicu gelombang pembatalan dan pembatasan penerbangan maskapai Teheran di berbagai negara, efektif mulai Rabu ini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk semakin menekan Teheran di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.
Laporan dari media Iran mengindikasikan bahwa penerbangan menuju Baghdad di Irak dan Muscat di Oman akan dihentikan mulai hari ini. Namun, rute internasional lainnya, termasuk tujuan populer seperti Istanbul di Turki, dilaporkan masih beroperasi sesuai jadwal. Juru bicara penerbangan sipil Iran juga mengonfirmasi bahwa bandara-bandara di Baghdad dan Muscat tidak lagi menerima kedatangan pesawat dari Iran.

Menyikapi situasi ini, otoritas penerbangan Iran tengah mempertimbangkan pengalihan rute penerbangan ke Baghdad menuju Najaf, sebuah kota suci yang menjadi tujuan utama para peziarah Iran. Pembatasan penerbangan ini bukan hanya terjadi di Timur Tengah. Georgia, misalnya, telah melarang operasional maskapai Iran di wilayah udaranya sejak Senin lalu. Sementara itu, Mahan Air, maskapai swasta Iran, mengumumkan penghentian penerbangan ke Turki atas permintaan pemerintah Ankara.
Meski demikian, Iran Air menyatakan belum menerima pemberitahuan resmi dari otoritas penerbangan sipil Turki, Azerbaijan, maupun Irak mengenai penghentian penerbangan. Namun, di balik layar, pemerintah Irak dilaporkan tengah bersiap untuk mematuhi kebijakan AS. Sumber-sumber senior di Baghdad menyebutkan bahwa Irak akan mengikuti langkah Washington, meskipun belum ada pengumuman publik. Irak sendiri merupakan salah satu destinasi krusial bagi maskapai Iran, terutama untuk mengangkut peziarah ke situs-situs suci.
Ancaman terhadap maskapai Iran ini merupakan bagian dari serangkaian sanksi yang semakin diperketat oleh AS terhadap sektor penerbangan Teheran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Senin lalu menegaskan bahwa Washington akan memutus akses maskapai Iran dari layanan esensial penerbangan internasional. "Semua maskapai penerbangan Iran akan ditutup di seluruh dunia," tegas Bessent. Ia juga mengeluarkan peringatan keras bagi pihak mana pun yang tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran. "Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan bakar, Anda tidak boleh memberikan layanan pendaratan, Anda tidak boleh menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," ancamnya.
Sebelumnya, AS juga telah mengancam dengan apa yang disebut Bessent sebagai "D-Day ekonomi" untuk memaksa Iran tunduk, setelah upaya diplomatik dan militer menemui jalan buntu. Dampak penuh dari sanksi terbaru ini masih belum sepenuhnya jelas, mengingat sektor penerbangan Iran telah menjadi sasaran berbagai sanksi selama bertahun-tahun.
Potensi penghentian penerbangan antara Iran dan Irak telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan agen perjalanan Irak. Di Najaf, kota suci Syiah, agen perjalanan Haidar Shamaa mengungkapkan bahwa sebagian besar perusahaan perjalanan di kota itu sangat bergantung pada pemesanan penerbangan ke bandara-bandara Iran. Banyak pelanggan kini mulai menghubungi agen untuk mencari kepastian, bahkan beberapa mempertimbangkan untuk beralih menggunakan jalur darat, meskipun perjalanan darat membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.
Kebijakan AS ini juga menuai penolakan dari Tiongkok, salah satu mitra dagang utama Iran. Pemerintah Tiongkok menyatakan menentang sanksi sepihak AS terhadap Iran yang dinilai tidak memiliki dasar dalam hukum internasional atau otorisasi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sanksi terbaru ini berpotensi semakin membatasi kemampuan warga Iran untuk bepergian ke luar negeri atau kembali ke negaranya, sekaligus mengganggu jaringan penerbangan internasional yang selama ini menghubungkan Iran dengan negara-negara di kawasan.


