faktual.news – Konsumen di seluruh Indonesia dibuat terkejut dengan lonjakan harga cabai rawit yang kini melampaui angka Rp81.052 per kilogram secara rata-rata nasional. Badan Pangan Nasional Bapanas menyoroti fenomena ini dan mengungkap beragam pemicu di balik gejolak harga komoditas pedas tersebut. Mulai dari musim kemarau ekstrem hingga serangan hama menjadi biang keladi utama yang memicu kenaikan signifikan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menekankan pentingnya respons cepat terhadap dinamika pasokan dan harga cabai rawit terutama di daerah yang mengalami kenaikan drastis. Pemerintah melalui Bapanas berencana mengaktifkan kembali program Fasilitasi Distribusi Pangan FDP. Skema ini akan mengalirkan pasokan cabai dari wilayah yang produksinya berlebih menuju area yang mengalami defisit.

Ketut menjelaskan bahwa FDP sebelumnya terbukti efektif dalam menstabilkan harga. Program ini melibatkan petani unggulan cabai binaan Kementerian Pertanian untuk mendistribusikan hasil panen. "Misalnya dari daerah di luar Jawa yang harganya masih terjangkau kita bisa FDP ke wilayah yang harganya tinggi" ujarnya. Para petani mitra siap kembali membantu distribusi ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi Bapanas bersama para petani cabai beberapa waktu lalu terungkap beberapa faktor utama penyebab fluktuasi harga. Salah satunya adalah musim kemarau panjang yang berdampak langsung pada penurunan produksi. Selain itu tanaman cabai juga rentan terhadap serangan hama seperti trips dan kutu kebul yang merusak kualitas dan kuantitas panen. Faktor lain yang tak kalah penting adalah adanya peralihan tanam dari cabai ke komoditas lain oleh sebagian petani.
Meski demikian Kementerian Pertanian Kementan memberikan jaminan bahwa pasokan cabai rawit secara nasional masih mencukupi hingga akhir tahun. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto memperkirakan produksi cabai rawit nasional pada bulan September mencapai sekitar 119 ribu ton. Beberapa sentra produksi utama di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Sampang masih memiliki areal tanam yang luas dengan potensi panen yang tinggi.
Selain Jawa Timur sentra produksi cabai rawit di Pulau Jawa juga tersebar di Temanggung Brebes dan Magelang. Sudi menambahkan meskipun produksi di wilayah tersebut saat ini masih relatif rendah karena sebagian besar tanaman baru memasuki masa tanam namun diperkirakan akan membantu memenuhi kebutuhan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Bapanas mencatat program FDP cabai rawit yang telah terlaksana pada periode sebelumnya berhasil mendistribusikan 5.590 kg cabai. Distribusi ini termasuk pengiriman 3.150 kg cabai rawit dari Enrekang Sulawesi Selatan ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta serta 1.140 kg ke Lombok Tengah dan 1.300 kg ke Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Upaya distribusi ini disebut turut berkontribusi dalam meredakan laju inflasi pangan pada saat itu.
Kini para petani cabai binaan Kementan menyatakan kesiapan mereka untuk kembali memasok wilayah yang mengalami lonjakan harga. Sudi menegaskan pasokan dari daerah produksi siap dimobilisasi jika pemerintah kembali mengaktifkan program FDP. "Mereka siap membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi" kata Sudi.
Data terbaru Bapanas menunjukkan rata-rata harga cabai rawit nasional berada di level Rp81.052 per kg. Sulawesi Utara mencatat harga rata-rata tertinggi mencapai Rp152.872 per kg sementara Nusa Tenggara Timur memiliki harga rata-rata terendah yakni Rp56.604 per kg.


