faktual.news – Di tengah gejolak harga minyak dunia yang kembali merangkak naik melampaui US$100 per barel, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tetap kokoh dan memiliki daya tahan yang memadai. Kondisi keuangan negara dinilai masih aman untuk menghadapi fluktuasi harga komoditas global ini.
Purbaya, saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan Jakarta, mengungkapkan bahwa perhitungan anggaran telah memperhitungkan skenario harga minyak yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah belum berencana untuk menambah alokasi subsidi energi secara langsung. Namun, pemantauan ketat terhadap perkembangan harga minyak akan terus dilakukan guna menentukan langkah strategis selanjutnya.

"Kami terus memantau dinamika harga. Jangan sampai kenaikannya semakin tak terkendali," ujar Purbaya, mengisyaratkan kehati-hatian pemerintah dalam mengambil keputusan terkait subsidi.
Ia menjelaskan, proyeksi fiskal pemerintah sebelumnya telah memasukkan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel. Dengan asumsi tersebut, target defisit APBN ditetapkan pada angka 2,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menariknya, rata-rata harga minyak dunia yang menjadi patokan APBN saat ini masih berada di bawah US$90, memberikan ruang gerak tambahan bagi keuangan negara.
Pemerintah, menurut Purbaya, telah memiliki pengalaman dalam mengelola periode harga minyak yang tinggi di masa lalu. Oleh karena itu, kenaikan harga saat ini tidak perlu ditanggapi dengan kekhawatiran berlebihan. Komitmen untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen akan terus dipertahankan demi keberlanjutan fiskal.
Kondisi fiskal Indonesia saat ini juga terbilang sangat terjaga. Defisit APBN hingga periode Juli-Agustus masih berada di bawah 1 persen, menunjukkan pengelolaan anggaran yang prudent dan efektif.
Purbaya juga meyakinkan bahwa lonjakan harga minyak dunia ini tidak akan serta-merta menekan daya beli mayoritas masyarakat. Pasalnya, pemerintah masih memberikan subsidi untuk jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu, seperti Pertalite. Konsumen Pertamax mungkin akan merasakan dampaknya, namun sebagian besar masyarakat yang mengandalkan BBM bersubsidi tidak akan terganggu.
Kenaikan harga minyak global hingga di atas US$100 per barel pada perdagangan Kamis dipicu oleh kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan. Eskalasi konflik dan serangan di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut, menjadi pemicu utama kecemasan ini. Harga minyak mentah Brent tercatat naik menjadi US$101,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS mencapai US$96,55 per barel.


