faktual.news – Jakarta terus bergerak bukan hanya dalam pembangunan infrastruktur transportasi modern. Di balik megahnya stasiun dan jalur MRT, ada visi besar untuk menghidupkan kembali kawasan-kawasan vital di sekitarnya. Salah satu yang kini menjadi sorotan utama adalah Kota Tua, sebuah permata sejarah yang siap disulap dengan sentuhan tangan PT MRT Jakarta (Perseroda). Konsep "placemaking" yang sukses di Blok M akan diterapkan, namun dengan satu perbedaan fundamental: identitas sejarah Kota Tua akan tetap menjadi jiwa utama.
Samuel Ryan Pradipta Pranowo, Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, mengungkapkan bahwa revitalisasi Kota Tua diharapkan mampu mengembalikan keramaian tanpa sedikit pun mengikis karakter warisan budaya yang melekat kuat. "Kami berharap area Kota Tua segera mendapatkan sentuhan baru. Kami ingin kawasan ini kembali berdenyut, namun dengan tetap menjaga identitas heritagenya. Baik itu nuansa Pecinan, maupun ‘Little Amsterdam’ yang khas, tidak akan hilang. Sebaliknya, area ini akan dihidupkan dengan perpaduan ritel modern, aktivitas komunitas, dan berbagai elemen pendukung lainnya," jelas Samuel dalam sebuah lokakarya MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di kantor MRT, Jakarta Pusat.

Konsep yang diusung MRT jauh melampaui sekadar mempercantik tampilan fisik. Placemaking adalah filosofi menghidupkan sebuah tempat melalui serangkaian aktivitas, penguatan komunitas, peningkatan konektivitas, hingga pembentukan identitas kuat yang pada akhirnya memberikan alasan bagi setiap orang untuk datang dan terus kembali. Oleh karena itu, Kota Tua tidak akan menjadi replika Blok M. Jika Blok M dirancang sebagai magnet bagi generasi muda dengan perpaduan gaya urban dan nostalgia, Kota Tua akan berpegang teguh pada akar sejarahnya yang kaya.
Identitas Glodok sebagai pusat elektronik dan Pecinan yang legendaris akan dipertahankan sebagai bagian tak terpisahkan dari karakter kawasan. Di saat yang sama, MRT melihat potensi besar untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas ritel, ruang komunitas, hingga beragam kegiatan yang mendukung fungsi wisata. Pendekatan ini sejalan dengan visi pengembangan kawasan yang menempatkan transportasi publik sebagai jantung aktivitas, bukan lagi dominasi kendaraan pribadi. Dengan demikian, ruang pejalan kaki yang nyaman, akses mudah menuju transportasi, geliat ekonomi, dan ruang publik akan terjalin menjadi satu ekosistem yang harmonis.
Sebelum melangkah ke Kota Tua, MRT telah lebih dulu mengaplikasikan pendekatan serupa di Blok M. Namun, Samuel mengakui bahwa proyek di Blok M sendiri belum rampung sepenuhnya, baru mencapai separuh dari keseluruhan rencana. "Beberapa konsep ini akan kami terapkan. Di Blok M sudah berjalan, meski baru setengah jalan. Blok M akan kami benahi agar jauh lebih rapi dan menarik lagi. Jadi, kami baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M, dan konsep serupa nanti akan kami bawa ke Kota Tua," ujarnya.
Transformasi Blok M telah terlihat nyata dari perubahan suasana dan aktivitas kawasan. Dari yang sebelumnya relatif sepi, MRT mencatat kawasan itu kini dibanjiri pengunjung hingga sekitar 40 ribu orang setiap hari kerja. Angka ini melonjak menjadi 60 ribu hingga 70 ribu orang pada akhir pekan tanpa acara khusus, dan bahkan bisa mencapai 80 ribu hingga 90 ribu orang saat ada event besar. Perubahan luar biasa ini tidak hanya ditopang oleh pembangunan fisik semata. Taman Literasi, Blok M Hub, berbagai acara komunitas, festival, serta masuknya pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) menjadi bagian integral dari upaya MRT untuk menjaga kawasan tetap hidup dan beraktivitas. MRT mencatat, nyaris 500 pelaku UMKM telah bergabung dalam ekosistem yang mereka kembangkan. Bagi MRT, kehadiran para pengusaha kecil ini adalah strategi kunci agar kawasan tidak hanya ramai saat ada acara besar, tetapi juga memiliki denyut kehidupan yang berkelanjutan setiap harinya.


