faktual.news – Bank Indonesia (BI) melayangkan peringatan keras terkait prospek ekonomi global yang diprediksi masih merana, diselimuti awan tebal ketidakpastian di pasar keuangan. Kondisi ini, menurut Pelaksana Tugas Gubernur BI Destry Damayanti, akan menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia hanya di kisaran 3 persen untuk tahun 2026, sebuah proyeksi yang menandakan pemulihan yang lamban.
Destry menjelaskan, gejolak ekonomi global ini dipicu oleh sederet faktor kompleks. Konflik yang tak kunjung usai di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama, mendorong lonjakan harga minyak mentah dan komoditas global lainnya. Situasi ini diperparah dengan bayang-bayang era "higher for longer", di mana suku bunga acuan dan imbal hasil obligasi diperkirakan akan bertahan di level tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang.

"Paling tidak hingga akhir tahun ini, kita akan terus memantau dinamika global dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Untuk skala global, kita memang harus bersiap menghadapi periode ketidakpastian yang mungkin akan berlangsung cukup lama," tegas Destry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur BI Agustus.
Tekanan ini juga tercermin dari kebijakan Federal Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat yang berpotensi tetap tinggi. Inflasi yang persisten dan kenaikan harga minyak menjadi alasan utama di balik sikap bank sentral AS tersebut. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan defisit anggaran pemerintah AS berpotensi membanjiri pasar dengan pasokan obligasi, yang pada gilirannya akan menekan imbal hasil (bond yield) dan suku bunga global secara keseluruhan.
"Semua faktor ini akan menciptakan lingkungan di mana hampir semua instrumen, baik itu bond yield maupun suku bunga, akan berada pada posisi yang tinggi," imbuhnya.
Namun, di tengah badai global, perekonomian domestik Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengungkapkan, meskipun dunia menghadapi gangguan rantai pasok dan kenaikan harga komoditas, ekonomi Tanah Air tetap kokoh. Hal ini terbukti dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2026 yang impresif, mencapai 5,29 persen.
"Pertumbuhan positif ini terutama didorong oleh hasil dari investasi proyek-proyek strategis pemerintah, yang tampaknya sudah mulai menunjukkan dampak nyata," ujar Aida. Ia menambahkan, struktur pertumbuhan ekonomi pada periode April-Juni 2026 memperlihatkan perkembangan menggembirakan, khususnya dari sektor investasi, baik pada pembangunan fisik maupun non-fisik.


