faktual.news – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang memukau pada semester I 2026. Bank spesialis perumahan ini meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun, sebuah lonjakan signifikan 40,8 persen secara tahunan. Pencapaian impresif ini bukan semata-mata didorong oleh kenaikan pendapatan bunga, melainkan berkat strategi cerdas dalam efisiensi operasional dan digitalisasi.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan bahwa kunci di balik pertumbuhan laba yang pesat ini adalah keberhasilan menekan biaya dana atau cost of fund. "Jika ada yang bertanya apakah laba naik karena bunga juga naik, jawabannya tidak. Justru cost of fund kami yang turun," ungkap Nixon dalam pemaparan kinerja perseroan per Juni 2026.

Nixon menambahkan, meskipun pendapatan bunga mungkin mengalami tekanan, penurunan biaya bunga yang lebih substansial mampu menopang perolehan laba bersih. Ini menunjukkan bahwa BTN kini beroperasi dengan lebih gesit dan adaptif. "Kami tidak lagi hanya mengandalkan penambahan jumlah nasabah kredit, tetapi lebih fokus pada efisiensi proses, optimalisasi digitalisasi, dan pemanfaatan teknologi untuk menciptakan cara kerja yang jauh lebih efisien," tegasnya.
Selain laba yang melonjak, BTN juga mencatat pertumbuhan positif pada berbagai indikator keuangan lainnya. Penyaluran kredit konsolidasi tumbuh 11,2 persen mencapai Rp418,11 triliun hingga akhir Juni 2026. Total aset perseroan ikut membesar 12,4 persen menjadi Rp545 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 6,6 persen menjadi Rp433 triliun.
Kualitas aset BTN juga menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99 persen, turun dari sebelumnya di atas 3 persen. Rasio Loan at Risk (LAR) membaik ke angka 18,6 persen, dan rasio kecukupan modal (CAR) menguat menjadi 20 persen. Nixon menyebut, peningkatan kualitas kredit ini tak lepas dari peran kecerdasan buatan (AI) yang diimplementasikan dalam proses persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). "Kualitas akuisisi kredit kami jauh lebih baik saat ini. Indikator satu hingga dua tahun ke depan menunjukkan tren penurunan, artinya kualitas akuisisi semakin solid," jelasnya.
Meski demikian, BTN memilih untuk merevisi target pertumbuhan kredit sepanjang 2026 menjadi kisaran 8-10 persen. Penyesuaian ini dilakukan mengingat kondisi likuiditas di industri perbankan yang masih ketat. "Memang sampai akhir tahun, kami kemungkinan akan sedikit menurunkan target pertumbuhan kredit ke kisaran 8-10 persen karena ketersediaan dana memang langka," kata Nixon.
Kondisi likuiditas yang menantang ini dipengaruhi oleh tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang efektif menyedot likuiditas perbankan. Di sisi lain, persaingan dalam penghimpunan dana juga semakin ketat.
Ke depan, BTN akan tetap fokus menggenjot penyaluran kredit untuk segmen program pemerintah, seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Perseroan juga akan lebih cermat dalam menyalurkan kredit korporasi yang menawarkan imbal hasil rendah demi menjaga kondisi likuiditas. "Kami terus beradaptasi. Setiap minggu kami memantau perkembangan makro dan likuiditas. Game changer utama saat ini adalah likuiditas," pungkas Nixon.


