faktual.news – Sebuah fenomena menarik tengah menyelimuti pasar modal Indonesia. Di tengah guncangan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang merosot tajam, jumlah investor justru melonjak drastis, mencapai rekor baru. Data terbaru menunjukkan, hingga akhir Juni 2026, total investor di pasar modal telah menembus angka 28,96 juta individu.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi, mengonfirmasi tren peningkatan signifikan ini. Sepanjang Juni 2026 saja, tercatat penambahan sebanyak 1,21 juta investor baru, menandakan pertumbuhan impresif sebesar 42,22 persen secara tahunan (year to date). Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal tetap tinggi, bahkan di tengah gejolak.

Namun, di sisi lain, pasar saham domestik masih berada dalam fase konsolidasi yang cukup menantang. IHSG, barometer utama bursa saham Indonesia, ditutup pada level 5.643,19 di akhir Juni 2026, mengalami penurunan 7,9 persen secara bulanan. Lebih jauh lagi, sejak awal tahun, indeks kebanggaan ini telah tergerus hingga 34,74 persen, sebuah koreksi yang cukup dalam.
Hasan Fawzi menjelaskan, pelemahan pasar saham ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ketidakpastian global yang berkelanjutan, persepsi investor terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan domestik, serta adanya penyesuaian atau penyeimbangan kembali portofolio investasi menjadi pemicu utama. Kondisi ini membuat para pelaku pasar bersikap lebih hati-hati.
Aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing juga turut mewarnai dinamika pasar saham. Sepanjang Juni, investor mancanegara tercatat melakukan penjualan saham senilai Rp19,63 triliun. Meskipun demikian, likuiditas pasar tetap terjaga dengan baik, tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian yang masih kokoh di angka Rp22,23 triliun. Ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan di bursa tetap aktif dan bergairah.
Berbeda dengan pasar saham, pasar obligasi justru menunjukkan performa yang lebih stabil. Investor asing mencatatkan pembelian bersih Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp22,43 triliun selama Juni, menandakan kepercayaan terhadap instrumen utang pemerintah Indonesia. Sementara itu, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp652,9 triliun, meskipun mengalami sedikit penurunan 4,79 persen secara bulanan dan 3,32 persen sejak awal tahun.


