faktual.news – Pasar modal Indonesia kembali menyajikan drama menarik. Setelah sempat terseok-seok sepanjang pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba melesat tajam pada penutupan perdagangan Jumat lalu, melonjak 2,28 persen dan bertengger di level 5.875. Sebuah penutupan yang memancing optimisme, namun apakah ini sinyal kebangkitan atau hanya euforia sesaat? Para analis kini membocorkan saham-saham pilihan yang berpotensi mendulang cuan di tengah ketidakpastian ini.
Meskipun IHSG menunjukkan kekuatan di akhir pekan, kinerja keseluruhan pasar selama periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026 justru mencatatkan tren negatif. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, kapitalisasi pasar bursa mengalami penyusutan tipis 0,14 persen, dari Rp10.302 triliun menjadi Rp10.287 triliun. Lebih lanjut, rata-rata volume transaksi harian anjlok 30,35 persen, dari 25,18 miliar menjadi 17,54 miliar lembar saham. Penurunan juga terlihat pada rata-rata nilai transaksi harian yang melorot 35,90 persen, serta frekuensi transaksi harian yang berkurang 16,71 persen. Ironisnya, di tengah gejolak ini, investor asing masih mencatatkan nilai jual bersih (net sell) fantastis sebesar Rp74,42 triliun sepanjang tahun 2026, meskipun pada Jumat kemarin sempat membukukan net buy tipis Rp6,08 miliar.

Lantas, bagaimana prospek pergerakan IHSG untuk pekan mendatang? Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memprediksi ruang gerak penguatan indeks saham mulai terbatas. Menurutnya, IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.486 dan resistance 6.286. Sentimen yang patut dicermati investor meliputi rilis data cadangan devisa dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia, neraca dagang, hingga hasil risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes). Tak hanya itu, peluang kenaikan harga emas juga masih terbuka, sementara nilai tukar rupiah yang masih bertahan di level psikologis Rp18 ribu per dolar AS juga akan menjadi perhatian utama.
Berdasarkan analisis teknikalnya, Herditya merekomendasikan beberapa saham menarik. Pertama, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang pekan lalu ditutup menguat 4,37 persen di posisi 2.030. Ia memproyeksikan JPFA berpotensi mencapai level 2.210. Kedua, saham Multipolar (MLPL) yang melonjak 3,80 persen ke posisi 82. Target Herditya untuk MLPL adalah 97. Ketiga, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang ditutup menguat 4,08 persen di level 408, diprediksi dapat menyentuh 464.
Di sisi lain, Founder Republik Investor, Hendra Wardana, melihat adanya peluang IHSG melanjutkan penguatan pada perdagangan awal pekan, Senin (6/7), meskipun dengan ruang gerak yang terbatas setelah lonjakan signifikan Jumat lalu. Penguatan ini, menurut Hendra, ditopang oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang membaik. Dari kancah global, pasar merespons positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi, memicu harapan Federal Reserve tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga. Kondisi ini mendorong investor kembali melirik aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang. Optimisme global diperkuat oleh data PMI di sejumlah negara Asia yang masih di zona ekspansi, penguatan bursa regional, serta apresiasi rupiah ke kisaran Rp17.962 per dolar AS.
Di ranah domestik, hampir seluruh sektor mencatatkan penguatan, dengan sektor perindustrian tampil sebagai motor utama. Kenaikan ini juga didukung oleh aksi bargain hunting pada saham-saham yang sebelumnya terkoreksi cukup dalam. Hendra menekankan bahwa reli saat ini lebih banyak didorong oleh investor domestik dan membaiknya sentimen global, bukan oleh arus masuk dana asing yang kuat. Ia mengingatkan, kenaikan IHSG perlu disikapi selektif karena belum didukung akumulasi dana asing yang konsisten. Sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp88 triliun. Selama investor asing belum kembali melakukan akumulasi secara konsisten, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi, sehingga penguatan indeks akan berlangsung bertahap.
Hendra Wardana juga membagikan daftar saham pilihannya. Ia merekomendasikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang pekan lalu ditutup menguat 3,55 persen di level 1.750, dengan proyeksi target 1.945. Selanjutnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang meroket 6,30 persen ke level 2.700, diprediksi bisa mencapai 2.900. Terakhir, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang menguat 6,06 persen ke level 210, dengan target proyeksi 250.
Penting: Artikel ini bukan rekomendasi jual atau beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca.


