faktual.news – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan mengenai kondisi sektor swasta di Indonesia. Ia secara gamblang membeberkan perbandingan performa sektor non-pemerintah antara era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Purbaya menyoroti bagaimana sektor swasta menunjukkan pertumbuhan yang kurang bergairah dalam satu dekade terakhir, sebuah kondisi yang menurutnya dipengaruhi oleh minimnya stimulus dari kebijakan moneter dan fiskal.
Dalam sebuah forum diskusi para ekonom di Jakarta, Purbaya menjelaskan bahwa laju pertumbuhan sektor swasta selama sepuluh tahun terakhir cenderung lesu. "Boleh dibilang, sektor swasta atau non-pemerintah tumbuh amat lambat karena kebijakan fiskal dan moneter tidak cukup mendukung," ungkapnya, mengacu pada periode pemerintahan Jokowi.

Perbandingan data menjadi kunci argumen Purbaya. Ia memaparkan, pada masa pemerintahan SBY, pertumbuhan uang primer (M0) rata-rata mencapai 18 persen, diiringi dengan pertumbuhan kredit yang menyentuh angka 22 persen selama sepuluh tahun. Angka ini berbanding terbalik dengan era Jokowi, di mana pertumbuhan uang primer hanya sekitar 7 persen, dan penyaluran kredit berada di kisaran 5-7 persen.
Purbaya menganalisis bahwa perbedaan signifikan ini bersumber dari pendekatan mesin penggerak ekonomi yang diusung pada masing-masing era. "Zaman Pak SBY, sektor non-pemerintah terus naik, cenderung ekspansif. Namun, di era Pak Jokowi, sektor non-pemerintah justru terlihat loyo," jelasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk mengubah arah. Untuk strategi jangka panjang, ia bertekad menyeimbangkan peran antara sektor negara dan swasta secara simultan. Tujuannya jelas, yakni memacu pertumbuhan ekonomi nasional. "Selama ini kita selalu berdebat, apakah fokus ke sektor non-pemerintah seperti zaman SBY, atau government-led seperti zaman Jokowi. Sekarang, kita coba hidupkan keduanya. Sepertinya hampir berhasil," ujarnya optimistis.
Sebelumnya, Purbaya juga pernah menggarisbawahi pentingnya suntikan investasi dari sektor swasta dan peran Danantara untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun 2027. Untuk mencapai target ambisius tersebut, dibutuhkan pertumbuhan investasi nasional hingga 7 persen. Ia menjelaskan, investasi pemerintah akan berperan sebagai pemicu awal, sementara sektor swasta diharapkan menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Adapun Danantara akan difokuskan untuk berinvestasi pada sektor-sektor strategis dan pengembangan industri hilir.


