Faktual.news – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan di pasar keuangan global. Pada penutupan perdagangan Selasa (27/10) sore, nilai tukar rupiah terpantau semakin tertekan dan menyentuh level Rp18.156 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan kondisi ekonomi yang tengah menghadapi tantangan berat, baik dari dinamika geopolitik dunia maupun sentimen pasar domestik.
Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang kebanggaan Indonesia ini mengalami penurunan sebesar 21 poin atau setara dengan 0,12 persen. Tren penurunan ini menambah daftar panjang ketidakpastian yang membayangi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah fluktuasi ekonomi global yang tidak menentu.

Kondisi serupa juga dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia. Berdasarkan data pasar, peso Filipina mencatatkan pelemahan yang cukup signifikan sebesar 0,39 persen. Selain itu, yen Jepang juga mengalami depresiasi sebesar 0,18 persen, diikuti oleh won Korea Selatan yang melemah 0,12 persen. Sementara itu, dolar Singapura terpantau turun tipis 0,07 persen. Di sisi lain, terdapat sedikit perlawanan dari ringgit Malaysia yang menguat tipis 0,01 persen dan dolar Hong Kong yang naik 0,02 persen, sedangkan yuan China cenderung bergerak stabil atau datar.
Tidak hanya di Asia, mata uang negara-negara maju juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi terhadap dolar AS. Euro dan pound sterling Inggris masing-masing melemah 0,13 persen dan 0,16 persen. Dolar Kanada juga mengalami koreksi sebesar 0,05 persen, sementara franc Swiss melemah 0,10 persen. Namun, dolar Australia justru menunjukkan tren positif dengan penguatan sebesar 0,06 persen.
Menganalisis fenomena ini, Lukman Leong, seorang analis mata uang dari DOO Financial Futures, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah merupakan hasil dari kombinasi tekanan faktor eksternal dan domestik yang cukup kompleks. Menurutnya, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Ancaman serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan menciptakan ketidakpastian global yang memicu investor untuk beralih ke aset yang lebih aman.
"Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah tekanan internal dan eksternal. Kekhawatiran eskalasi geopolitik di Timur Tengah akibat ancaman serangan militer AS membebani rupiah," jelas Lukman saat memberikan keterangan kepada faktual.news.
Selain faktor perang, Lukman juga menyoroti aksi jual bersih oleh investor asing di pasar saham domestik yang terus berlangsung. Hal ini secara langsung mengurangi aliran modal masuk ke Indonesia. Ditambah lagi, penguatan indeks dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat atau sikap hawkish dari Federal Reserve (The Fed) semakin mempersempit ruang gerak rupiah. Para pelaku pasar kini tengah menanti hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung esok hari untuk melihat arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat selanjutnya.


