faktual.news – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas menyatakan era "Indonesia Cemas" telah berakhir. Kini, negara ini bergerak mantap menuju "Indonesia Emas". Pernyataan optimis ini bukan tanpa dasar, melainkan didukung penuh oleh keputusan Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings yang baru-baru ini mengukuhkan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB dan A-2 untuk jangka pendek, lengkap dengan prospek stabil.
Keputusan dari lembaga pemeringkat global terkemuka ini, menurut Purbaya, menjadi sinyal positif yang sangat kuat. Ini bukan hanya kabar baik bagi pemerintah, tetapi juga suntikan optimisme bagi seluruh masyarakat dan para pelaku di pasar modal. "Indonesia kini bukan lagi diliputi kecemasan, melainkan tengah melaju kencang menuju masa keemasan," ujar Purbaya dalam sebuah Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Pencapaian gemilang ini, lanjut Purbaya, tak lepas dari dukungan solid yang diberikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), khususnya Komisi XI dan Badan Anggaran (Banggar). Ia pun menyampaikan permohonan agar dukungan tersebut terus berlanjut demi kelancaran tugas-tugas pemerintah ke depan.
Purbaya kemudian menceritakan upaya diplomasi ekonomi yang dilakukan beberapa bulan lalu. Dirinya bersama sejumlah perwakilan DPR RI, seperti Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Ketua Komisi XI Misbakhun, dan Wakil Ketua Komisi XI Mohamad Hekal, terbang langsung ke Amerika Serikat. Misi mereka adalah bertemu dengan perwakilan S&P Global Ratings dan para investor internasional.
Dalam pertemuan penting tersebut, delegasi Indonesia berupaya keras meyakinkan S&P dan para investor bahwa kebijakan-kebijakan di Tanah Air berjalan selaras. Mereka menekankan adanya kerja sama yang harmonis antara eksekutif dan legislatif, serta menegaskan bahwa setiap kebijakan pemerintah bertujuan untuk kemakmuran rakyat dan selalu berlandaskan pada peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Parlemen.
Kunjungan langsung ke Negeri Paman Sam ini bukan tanpa alasan. Sejak awal tahun, Indonesia kerap dihantam berbagai kabar negatif, mulai dari isu penurunan peringkat S&P hingga tudingan pemerintah menggunakan anggaran secara serampangan. "Dengan sinergi yang kami tunjukkan di sana, mereka menjadi yakin bahwa langkah yang kita ambil memang sudah tepat," jelas Purbaya.
Keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil adalah bukti nyata. Ini menunjukkan kepercayaan lembaga internasional yang jujur, cermat, dan independen terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia. "Pengumuman S&P ini adalah indikator jelas bahwa lembaga internasional yang kredibel melihat kebijakan kita dalam kondisi baik," tegasnya.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga pengelolaan anggaran yang hati-hati dan sesuai regulasi, serta menghindari segala bentuk penyelewengan. Untuk itu, dukungan dan kerja sama dari DPR RI akan tetap menjadi kunci utama.
Dalam laporan terbarunya, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pertumbuhan riil diperkirakan mencapai 5,1 persen pada tahun 2026 dan rata-rata 4,9 persen untuk periode 2026-2029. Pendapatan per kapita Indonesia juga diprediksi menyentuh angka sekitar US$5.200 pada tahun ini, melanjutkan tren positif. Selain itu, defisit APBN diperkirakan akan tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap PDB, sesuai amanat undang-undang, meskipun ada peningkatan belanja subsidi energi.


