faktual.news – Langit di atas Pontianak kembali diselimuti kabut asap pekat, memicu kekacauan serius pada jadwal penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Supadio. Kondisi ini, yang merupakan imbas langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, telah memaksa sejumlah maskapai menunda bahkan membatalkan keberangkatan, menyebabkan ribuan penumpang terdampar.
Lion Group, salah satu operator penerbangan terbesar, mengumumkan bahwa visibilitas di sekitar Bandara Supadio anjlok drastis dalam beberapa hari terakhir. Penurunan jarak pandang ini secara signifikan mengganggu kelayakan operasional penerbangan. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Group, menegaskan bahwa setiap keputusan penundaan atau pembatalan diambil dengan mempertimbangkan kondisi aktual jarak pandang, perkembangan cuaca, situasi operasional, dan yang terpenting, faktor keselamatan penerbangan.

Menurut Danang, keselamatan penumpang, awak pesawat, dan seluruh pihak yang terlibat dalam operasional penerbangan adalah prioritas utama. Situasi darurat ini, di mana keberangkatan atau kedatangan pesawat harus ditunda atau dibatalkan, semata-mata demi menjaga keamanan. Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara penundaan, yang berarti penerbangan masih akan berjalan namun dengan waktu bergeser, dan pembatalan, di mana penerbangan tidak akan dijalankan sesuai jadwal. Jika kondisi jarak pandang tidak memungkinkan hingga batas waktu operasional, penerbangan bisa dibatalkan dengan opsi penggantian jadwal atau pengembalian biaya tiket.
Lion Group mengklasifikasikan kabut asap yang memangkas visibilitas secara signifikan ini sebagai keadaan kahar atau force majeure, sebuah faktor eksternal yang berada di luar kendali maskapai. Kondisi ini secara langsung menghambat operasional penerbangan yang aman. Meski demikian, Lion Group terus berupaya maksimal dengan memantau situasi, berkoordinasi erat dengan pihak terkait, memberikan informasi terkini kepada pelanggan, serta menyiapkan berbagai alternatif perjalanan yang memungkinkan.
Pada Kamis lalu, sejumlah penerbangan Lion Group yang melayani rute Pontianak mengalami perubahan jadwal dan pembatalan. Penerbangan Lion Air JT-837 rute Pontianak-Surabaya yang seharusnya terbang pukul 10.00 WIB, baru bisa lepas landas pukul 21.00 WIB. Sementara itu, penerbangan JT-955 rute Pontianak-Batam terpaksa dibatalkan. Demikian pula, penerbangan JT-989 Pontianak-Batam yang dijadwalkan pukul 16.55 WIB baru diberangkatkan pukul 21.32 WIB. Maskapai Batik Air juga merasakan dampaknya, dengan penerbangan ID-6227 rute Pontianak-Jakarta dibatalkan. Beberapa penerbangan Super Air Jet menuju Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta juga mengalami nasib serupa karena kondisi operasional yang belum memungkinkan.
Lion Group terus berkoordinasi intensif dengan pengelola Bandara Supadio dan otoritas terkait untuk memantau perkembangan jarak pandang. "Keselamatan tidak bisa ditawar. Setiap keputusan untuk menerbangkan, menunda, maupun membatalkan penerbangan didasarkan pada pertimbangan kondisi yang ada saat itu," tegas Danang. Sementara itu, PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports memastikan bahwa pada hari Sabtu, 5 September, operasional penerbangan di Bandara Internasional Supadio di Kubu Raya, Kalimantan Barat, mulai kembali normal seiring membaiknya jarak pandang setelah sempat terganggu. Maya Damayanti, General Manager Bandara Internasional Supadio, menambahkan bahwa kondisi bandara tetap kondusif, tertib, dan aman dalam melayani penumpang yang terdampak.


