faktual.news – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini melontarkan prediksi yang dinanti banyak pihak terkait nasib nilai tukar rupiah. Di tengah gempuran dolar AS yang tak kunjung reda, Purbaya memberikan secercah harapan dengan perkiraan kapan mata uang Garuda akan kembali menunjukkan kekuatannya di hadapan mata uang Paman Sam.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Senayan, Jakarta, Purbaya memproyeksikan bahwa momentum penguatan rupiah akan mulai terlihat secara bertahap memasuki paruh kedua tahun 2026, tepatnya mulai Juli. Ini menjadi kabar baik setelah periode panjang tekanan yang dialami rupiah.

Purbaya menjelaskan, hingga awal Juni 2026, rupiah memang masih berada di bawah tekanan signifikan. Faktor-faktor pemicunya beragam, mulai dari sentimen global yang cenderung "risk-off" di pasar keuangan, hingga tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial di dalam negeri. Kondisi ini membuat rupiah sulit bergerak naik.
Namun, Purbaya optimis tekanan tersebut dapat diatasi. Kunci utamanya adalah sinergi yang lebih erat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Ia menekankan pentingnya optimalisasi tata kelola devisa hasil ekspor (DHE) serta penguatan pasar keuangan domestik. Langkah-langkah ini diyakini akan memperkaya pasokan valuta asing di tanah air dan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
Lebih lanjut, outlook ekonomi global di tahun 2027 diperkirakan akan jauh lebih baik. Purbaya menyebut, meredanya sejumlah konflik geopolitik, khususnya antara Iran, AS, dan Israel, akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Situasi global yang lebih stabil ini tentu akan turut menopang pergerakan rupiah.
Dengan mempertimbangkan seluruh aspek tersebut, pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah pada tahun 2027 akan bergerak stabil di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan Rabu (10/6) sore, nilai tukar rupiah sempat menguat 114 poin atau 0,63 persen, ditutup pada level Rp17.944 per dolar AS.


