Faktual News – Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang melalui Program Studi DIII Keperawatan Kampus Kabupaten Belitung telah meluncurkan inisiatif edukasi kesehatan yang menjanjikan solusi mandiri bagi masyarakat dalam mengelola tekanan darah tinggi. Pelatihan akupresur yang digelar baru-baru ini di Desa Tanjung Tinggi, Belitung, bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya strategis untuk memberdayakan warga agar lebih proaktif menjaga kesehatan, sekaligus berpotensi mengurangi beban biaya pengobatan jangka panjang.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (23/5) ini berhasil menarik partisipasi 20 individu, terdiri dari kader kesehatan lokal dan warga masyarakat yang antusias. Di bawah bimbingan Ketua Pelaksana, R Ade Sukarna, bersama tim dosen ahli seperti Amiruddin, Nia Alinda, dan Adelia Rivanti, para peserta diberikan pemahaman komprehensif mengenai hipertensi. Sesi ini tidak hanya berhenti pada teori, melainkan dilanjutkan dengan demonstrasi interaktif mengenai titik-titik akupresur vital pada tangan, kepala, dan kaki yang terbukti efektif dalam merelaksasi tubuh dan menekan ketegangan akibat tekanan darah tinggi. Mahasiswa keperawatan turut berperan aktif sebagai pendamping, memastikan setiap peserta dapat mempraktikkan teknik dengan benar dalam suasana yang hangat dan kolaboratif.

Inisiatif ini mencerminkan visi tim pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya kesehatan preventif. Dengan mengajarkan terapi komplementer seperti akupresur, masyarakat diharapkan memiliki alternatif penanganan yang mudah diakses dan minim biaya, mengurangi ketergantungan pada intervensi medis yang mungkin mahal. Komitmen Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang semakin diperkuat dengan penyerahan bantuan tensimeter digital kepada Posyandu Desa Tanjung Tinggi. Langkah ini krusial untuk memastikan pemantauan tekanan darah dapat dilakukan secara berkala dan akurat di tingkat komunitas. Tak hanya itu, banner edukasi mengenai hipertensi juga diserahkan, berfungsi sebagai media promosi kesehatan yang berkelanjutan bagi kader dan masyarakat setempat.
Mardila, salah seorang peserta, mengungkapkan apresiasinya yang mendalam. "Kami jadi tahu cara sederhana untuk membantu mengurangi keluhan tekanan darah tinggi tanpa harus selalu bergantung pada obat," ujarnya, menyoroti nilai praktis dan kemandirian yang didapatkan dari pelatihan ini.
Keberhasilan program di Desa Tanjung Tinggi ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan yang efektif tidak harus rumit atau mahal. Bahkan di tengah gemerlap kawasan wisata yang mendunia, pendekatan yang dekat dan sederhana mampu menciptakan dampak positif yang signifikan, memberdayakan masyarakat untuk menjadi agen kesehatan bagi diri mereka sendiri dan keluarga. Ini adalah investasi jangka panjang dalam kualitas hidup dan kemandirian kesehatan komunitas.


