Faktual.news – Dunia industri baja global saat ini tidak bisa lepas dari nama besar Lakshmi Mittal. Pria yang kini dikenal sebagai penguasa pasar baja dunia ini telah berhasil mengubah peta persaingan industri melalui perusahaan raksasa ArcelorMittal. Namun, sedikit yang menyadari bahwa benih-benih kekaisaran bisnisnya justru tumbuh subur dari sebuah pabrik kecil yang beroperasi di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia.
Perjalanan karier Mittal bukanlah sebuah jalan tol yang mulus. Lahir di Sadulpur, Rajasthan, India, pada tahun 1950, ia tumbuh dalam kesederhanaan yang ekstrem. Ia berasal dari keluarga Hindu Marwari yang hidup dalam rumah besar yang dihuni 20 anggota keluarga. Masa kecilnya jauh dari kemewahan; mereka tidur di atas dipan tali dan memasak menggunakan tungku api terbuka. Meski tumbuh dalam keterbatasan, semangat belajar Mittal sangat tinggi. Ia bahkan sempat mengalami hambatan saat mendaftar di St. Xavier’s College karena keterbatasan kemampuan bahasa Inggris, namun ia berhasil membuktikan diri dengan menjadi lulusan terbaik di universitas tersebut.

Naluri bisnis Mittal mulai terasah sejak usia muda. Sambil menempuh pendidikan, ia sudah mulai bekerja di perusahaan milik ayahnya, Mohanlal Mittal. Pengalaman menjadi "anak magang" di pabrik baja memberikan fondasi kuat bagi pemahamannya terhadap proses produksi. Keberaniannya untuk mengambil risiko terlihat jelas saat ia memutuskan pindah ke Indonesia pada tahun 1976. Di Sidoarjo, ia mendirikan PT Ispat Indo, sebuah pabrik baja yang menjadi titik balik penting dalam sejarah hidupnya.
Strategi bisnis Mittal sangat unik dan agresif. Ia memiliki kemampuan luar biasa dalam melakukan restrukturisasi perusahaan. Ia sering kali membeli perusahaan baja yang sedang mengalami krisis atau merugi, kemudian mengirimkan tim manajemen khusus untuk membenahi operasionalnya hingga kembali mencetak keuntungan. Strategi akuisisi yang cermat ini mencapai puncaknya pada tahun 2006, ketika ia mengakuisisi Arcelor senilai US$33 miliar. Langkah ini melahirkan ArcelorMittal, produsen baja terbesar di dunia yang bermarkas di Luksemburg.
Kesuksesan ini membawa Mittal ke jajaran orang terkaya di dunia. Forbes mencatat kekayaannya mencapai US$29,2 miliar atau setara Rp529 triliun. Meskipun telah mencapai puncak kesuksesan, Mittal tetap menjaga privasinya, meski gaya hidup mewahnya sesekali mencuat ke publik, mulai dari pembelian properti mewah di London hingga biaya pernikahan putrinya yang fantastis.
Kini, tongkat estafet kepemimpinan ArcelorMittal telah diteruskan kepada putranya, Aditya Mittal, sejak Februari 2021. Sementara itu, Lakshmi Mittal tetap memegang peran strategis sebagai executive chairman untuk mengarahkan visi besar perusahaan di tengah dinamika permintaan baja global yang terus berkembang. Dari sebuah pabrik di Sidoarjo, Mittal telah membuktikan bahwa kerja keras dan strategi yang tepat mampu mengubah nasib dari kesederhanaan menuju puncak kejayaan dunia.


