Faktual.news – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren negatif pada penutupan perdagangan Senin (26/10) sore. Mata uang kebanggaan Indonesia ini harus menyerah pada tekanan pasar dengan merosot ke level Rp18.135 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp18.080, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 55 poin atau setara dengan 0,30 persen.
Kondisi ini bukan merupakan fenomena tunggal yang dialami Indonesia. Rupiah nampaknya tengah terjebak dalam arus pelemahan mata uang di kawasan Asia. Mayoritas mata uang negara tetangga juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Sebagai contoh, peso Filipina terpantau merosot tajam 0,54 persen, disusul oleh dolar Singapura yang turun 0,10 persen, yen Jepang yang melemah 0,17 persen, serta won Korea Selatan yang terkoreksi 0,06 persen. Bahkan, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong pun tidak luput dari tekanan, masing-masing turun 0,01 persen dan 0,03 persen.

Fenomena pelemahan ini juga merambah ke pasar mata uang negara-negara maju. Poundsterling Inggris dan dolar Australia masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 0,12 persen. Dolar Kanada dan franc Swiss juga mengalami koreksi tipis. Di tengah badai pelemahan tersebut, hanya euro Eropa yang mampu menunjukkan ketahanan dengan menguat tipis 0,07 persen terhadap dolar AS.
Menanggapi situasi ini, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi fiskal nasional yang terancam akibat lonjakan harga minyak dunia. Sebagai negara yang masih menjadi importir neto minyak, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap kenaikan biaya impor energi serta membengkaknya beban subsidi dan kompensasi energi.
Ibrahim menyoroti fakta bahwa harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) telah menyentuh angka US$91,9 per barel hingga akhir September 2026. Angka ini sangat kontras dan jauh melampaui asumsi awal dalam APBN yang hanya dipatok sebesar US$70 per barel. Dampaknya sangat nyata bagi keuangan negara; setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel berisiko memperlebar defisit APBN hingga mencapai Rp6,8 triliun.
Selain faktor harga minyak, pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) turut memperparah tekanan fiskal. Data menunjukkan bahwa belanja subsidi dan kompensasi energi hingga akhir September 2026 telah menembus angka Rp376,8 triliun, atau melonjak 54,1 persen secara tahunan (year-on-year).
Untuk pergerakan pada perdagangan Selasa (27/10), Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS. Secara keseluruhan dalam pekan ini, mata uang Garuda diproyeksikan akan bergerak dalam rentang lebar antara Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.


