Faktual.news – Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa langkah besar menuju transisi dan transformasi energi nasional saat ini tengah berjalan di jalur yang tepat. Upaya ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan strategi jangka panjang untuk mencapai kedaulatan energi, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, dalam acara Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto yang berlangsung di Jakarta pada Jumat malam. Dalam pidatonya, Yuliot memaparkan sejumlah pencapaian krusial yang telah diraih kementerian dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sektor minyak dan gas bumi (migas).

Salah satu catatan positif yang menonjol adalah keberhasilan Indonesia dalam melampaui target lifting minyak yang telah ditetapkan dalam APBN 2025. Meskipun tantangan di lapangan cukup besar, realisasi lifting minyak berhasil menyentuh angka 605,3 ribu barel per hari, melampaui target awal sebesar 605 ribu barel per hari. Yuliot menyebut bahwa capaian ini merupakan sebuah prestasi signifikan yang jarang terjadi dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir.
Pemerintah kini tengah mematok target yang lebih tinggi, yakni mendorong produksi hingga mencapai 610 ribu barel per hari. Meski demikian, ia tidak menampik adanya berbagai kendala teknis maupun operasional yang membuat target ambisius tersebut belum sepenuhnya tercapai. Oleh karena itu, sinergi antarpihak menjadi kunci utama untuk memastikan target minimal tetap dapat terpenuhi.
Di sisi lain, Indonesia juga menunjukkan kemajuan pesat dalam program energi terbarukan melalui implementasi mandatori bahan bakar nabati (BBN) biodiesel B50 yang telah berjalan sejak Juli 2026. Langkah ini terbukti efektif dalam melakukan diversifikasi penggunaan minyak bumi. Dengan adanya B50, penggunaan minyak bumi dapat dialihkan sekitar 310 ribu barel per hari. Mengingat total konsumsi minyak nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, kebijakan ini sangat membantu menekan ketergantungan pada energi fosil.
Terkait sektor ketenagalistrikan, Yuliot memberikan kabar baik mengenai rasio elektrifikasi nasional yang kini telah menyentuh angka 99,85 persen. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memperluas jangkauan jaringan listrik hingga ke pelosok desa. Hal ini dilakukan agar hak masyarakat atas energi dapat terpenuhi secara merata, sehingga tidak ada lagi warga yang tertinggal dalam merasakan manfaat kemandirian energi.
Menatap masa depan, pemerintah tengah mendorong 18 proyek prioritas yang berfokus pada hilirisasi dan ketahanan energi. Proyek-proyek strategis ini diperkirakan akan menyerap investasi hingga Rp618 triliun, dengan mayoritas lokasi proyek tersebar di luar Pulau Jawa guna mendorong pemerataan ekonomi.
"Kami menyadari bahwa tugas ini masih panjang. Kita harus terus berjuang bersama untuk memperkuat ketahanan energi nasional, menekan ketergantungan impor, serta memperbaiki iklim investasi demi memastikan pasokan energi yang andal bagi seluruh rakyat," pungkas Yuliot.


