Faktual.news – Indonesia tengah melirik potensi besar dari organisme mikroskopis bernama mikroalga sebagai solusi masa depan energi penerbangan. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa kekayaan alam nusantara menyediakan seluruh komponen yang dibutuhkan untuk mengubah mikroalga menjadi bahan bakar pesawat atau avtur.
Dalam keterangannya pada ajang Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Hashim menyatakan optimisme tinggi terhadap pengembangan teknologi ini. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh banyak negara maju, terutama dalam hal ketersediaan sumber daya alam yang mendukung proses produksi mikroalga secara masif.

Hashim menjelaskan bahwa produksi mikroalga memerlukan kombinasi beberapa elemen kunci, yakni cahaya matahari yang melimpah, lahan yang luas, tenaga kerja yang besar, serta pasokan karbon dioksida (CO2). "Indonesia punya cahaya matahari yang cukup, sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain. Kita juga punya lahan untuk kolam atau tambak, serta tenaga kerja yang sangat banyak," ujar Hashim.
Lebih lanjut, ia menyoroti ketersediaan CO2 yang dapat menjadi bahan baku penting. Hashim menyebutkan bahwa banyak ladang minyak dan gas di Indonesia mengandung kandungan CO2 yang tinggi. Gas ini dapat diinjeksikan langsung ke dalam kolam-kolam mikroalga. Dengan perpaduan antara injeksi CO2 dan paparan sinar matahari yang intens, mikroalga dapat tumbuh dengan cepat dan siap diolah menjadi bahan bakar.
Menariknya, Hashim memberikan catatan khusus mengenai istilah penggunaan bahan bakar ini. Meski banyak pihak menyebutnya sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF), ia lebih memilih menggunakan istilah green fuel atau blue fuel. Ia menekankan bahwa meskipun potensinya sangat besar, pengembangan ini harus terus dikaji agar benar-benar memberikan dampak berkelanjutan bagi lingkungan.
Tak hanya berhenti pada sektor energi, pengembangan mikroalga ini diprediksi akan membawa dampak ekonomi yang luas melalui produk sampingan (by-product). Hashim menyebutkan bahwa mikroalga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pakan ternak berkualitas tinggi serta sumber protein manusia.
Ia mencontohkan jenis mikroalga seperti spirulina dan chlorella yang dapat dimanfaatkan sebagai suplemen protein tambahan. Kehadiran produk berbasis mikroalga ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan memproduksi suplemen protein secara mandiri, Indonesia diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap produk impor dan memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat secara lebih efisien.
Langkah strategis ini tidak hanya dipandang sebagai upaya transisi energi menuju energi bersih, tetapi juga sebagai peluang emas untuk mengoptimalkan sumber daya lokal demi kemandirian energi dan pangan di masa depan.


