Faktual.news – Fenomena ledakan investasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang tengah melanda Amerika Serikat ternyata menyimpan risiko tersembunyi bagi stabilitas ekonomi negara tersebut. Alih-alih hanya menjadi motor penggerak pertumbuhan, belanja besar-besaran untuk membangun infrastruktur teknologi ini dikhawatirkan justru menjadi pemicu lonjakan inflasi yang sulit dikendalikan.
Kekhawatiran ini muncul di tengah kondisi ekonomi Amerika Serikat yang saat ini masih menunjukkan performa yang sangat tangguh. Dengan tingkat pengangguran yang terjaga di angka 4,1 persen, aktivitas manufaktur yang mencapai titik tertinggi sejak pertengahan 2021, serta lonjakan penjualan ritel, ekonomi AS berada dalam posisi yang sangat aktif. Namun, aktivitas ekonomi yang terlalu tinggi ini justru menjadi pedang bermata dua ketika berhadapan dengan ambisi teknologi.

Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi dunia saat ini sedang berlomba-lomba menggelontorkan dana fantastis demi membangun pusat data (data center) AI. Kebutuhan ini mencakup pengadaan chip canggih, server, hingga pembangunan fasilitas fisik pendukung lainnya. Berdasarkan data dari JPMorgan, belanja infrastruktur AI yang mencakup komponen-komponen tersebut diprediksi akan menyentuh angka US$1 triliun atau sekitar Rp27.936 triliun pada tahun 2026 mendatang.
Angka tersebut bahkan diprediksi akan membengkak secara eksponensial. Stijn Van Nieuwerburgh, seorang ekonom dari Columbia University, memperkirakan bahwa total belanja infrastruktur AI secara kumulatif bisa mencapai US$10,3 triliun atau setara dengan Rp184.740 triliun hingga tahun 2032. Jika dihitung secara proporsional, investasi ini setara dengan 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat setiap tahunnya selama periode 2025 hingga 2032.
Masalah utama muncul ketika lonjakan permintaan terhadap kebutuhan pembangunan pusat data tidak dibarengi dengan ketersediaan pasokan yang memadai. Permintaan yang masif mulai menyasar berbagai sektor, mulai dari chip memori, material konstruksi, kebutuhan energi listrik, hingga tenaga kerja ahli seperti teknisi listrik dan pekerja konstruksi. Daniel Yue, pakar ekonomi dari Georgia Tech, menjelaskan bahwa guncangan permintaan yang tidak seimbang dengan pasokan inilah yang secara langsung menciptakan tekanan inflasi.
Kondisi ini diperparah oleh berbagai hambatan struktural seperti keterbatasan rantai pasok, regulasi yang ketat, kebijakan imigrasi yang membatasi tenaga kerja, hingga proses perizinan yang lamban. Akibatnya, harga barang dan jasa di sektor-sektor terkait mulai merangkak naik, yang jika dibiarkan, dapat merembet ke sektor ekonomi lainnya.
Menanggapi situasi ini, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan bahwa otoritas moneter tengah memantau secara ketat apakah pembangunan pusat data AI mulai membuat ekonomi AS mengalami overheating. Jika ekonomi dianggap terlalu panas, Federal Reserve mungkin terpaksa menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Meski demikian, para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga mungkin tidak akan efektif menghentikan laju investasi AI, mengingat sektor ini cenderung tidak sensitif terhadap perubahan biaya pinjaman.
Di sisi lain, investasi AI sebenarnya memiliki potensi positif jika mampu meningkatkan produktivitas nasional secara signifikan. Peningkatan kapasitas produksi di masa depan diharapkan dapat menjadi penyeimbang yang menahan tekanan inflasi dalam jangka panjang. Namun, tantangan besarnya adalah manfaat produktivitas tersebut belum sepenuhnya terasa, sementara kebutuhan modal untuk membangun infrastrukturnya sudah melaju sangat kencang. Amerika Serikat kini tengah berada di persimpangan jalan dalam transformasi ekonomi berbasis kecerdasan buatan.


