faktual.news – Kabar kurang menyenangkan kembali menyelimuti dunia penerbangan Indonesia. Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng Tangerang terpaksa memperpanjang masa penghentian operasionalnya hari ini Minggu 6 September hingga pukul 21.30 WIB. Keputusan ini diambil menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus meningkat dan berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Ribuan calon penumpang dipastikan harus menunda perjalanan mereka.
Informasi terbaru mengenai penutupan layanan ini dirilis oleh Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I melalui akun Instagram resmi Otbansatu. Pengumuman tersebut menegaskan bahwa kelumpuhan aktivitas di Bandara Soekarno-Hatta akan berlangsung hingga malam hari.

Dampak letusan gunung berapi ini tidak hanya dirasakan oleh Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah bandara lain di Jawa dan Sumatera juga mengalami nasib serupa. Bandar Udara Husein Sastranegara Bandung misalnya harus menangguhkan seluruh penerbangan hingga Senin 7 September pukul 06.00 WIB. Sementara itu Bandar Udara Pondok Cabe dan Bandar Udara M Taufik Kiemas Krui juga menghentikan operasionalnya hingga Senin 7 September pukul 09.00 WIB sesuai dengan NOTAM terkini.
Mengingat situasi yang tidak menentu ini pihak otoritas penerbangan mengimbau seluruh calon penumpang untuk proaktif memeriksa status dan jadwal penerbangan mereka. Disarankan untuk menghubungi kanal resmi maskapai masing-masing sebelum memutuskan untuk berangkat menuju bandara.
Gunung Anak Krakatau sendiri dilaporkan telah meletus hebat sejak Jumat malam 4 September hingga Minggu 6 September. Semburan abu vulkanik dari erupsi ini menyebar luas dan berdampak pada beberapa wilayah di Indonesia. Daerah-daerah seperti Lampung Bengkulu Banten Jawa Barat dan DKI Jakarta merasakan langsung imbas sebaran abu vulkanik tersebut.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG melalui analisis data dari PVMBG VAAC Darwin dan Citra Himawari-9 mengidentifikasi dua pola penyebaran abu vulkanik utama. Pola pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan meliputi sebagian wilayah DKI Jakarta Banten Jawa Barat serta perairan di sekitarnya. Sementara pola sebaran kedua terpantau bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mempengaruhi sebagian Banten Lampung Bengkulu Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu Lampung dan Banten. Kondisi ini tentunya memerlukan kewaspadaan tinggi dari semua pihak terkait.


