faktual.news – Di tengah hiruk pikuk modernisasi, sebuah revolusi senyap tengah bergulir di pelosok negeri. Desa-desa yang dulunya terpinggirkan kini menemukan secercah harapan baru, mengubah nasib mereka dari ketergantungan menjadi kemandirian ekonomi berkat sentuhan energi bersih. Inilah kisah inspiratif dari program Desa Energi Berdikari (DEB) yang digagas oleh PT Pertamina (Persero), sebuah inisiatif yang tidak hanya menghadirkan akses energi ramah lingkungan, tetapi juga memicu roda perekonomian lokal dan menjaga kelestarian alam.
Program DEB menjadi tulang punggung bagi masyarakat untuk berdaya, mulai dari sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan. Di Kampung Eduwisata Bhineka, Jakarta Pusat, misalnya, dua belas unit panel surya dengan sistem hibrida off-grid berkapasitas 8,8 kWh dan penyimpanan energi 20 kWh telah terpasang. Infrastruktur canggih ini menopang operasional kampung, mulai dari pengelolaan bank sampah, budidaya maggot, perikanan rakyat, hingga pertanian perkotaan. Pemanfaatan energi surya ini terbukti mampu memangkas biaya operasional listrik secara signifikan, sekaligus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan aktivitas ekonomi serta lingkungan masyarakat setempat.

Tak hanya di ibu kota, geliat kemandirian energi juga terasa di Desa Besakih, Karangasem, Bali. Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp lengkap dengan baterai penyimpanan 20 kWh kini menjadi sumber daya utama untuk operasional ekstraktor madu otomatis dan penerangan di area wisata perkemahan. Kehadiran PLTS ini tak main-main, ia berhasil memacu pertumbuhan ekonomi lokal dengan potensi peningkatan pendapatan hingga Rp123 juta per bulan dari sektor pariwisata dan hasil hutan non-kayu.
Di Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya Desa Sobokerto, PLTS juga menjadi penyelamat para petani. Energi dari matahari kini menggerakkan pompa sumur untuk mengairi lahan pertanian, memungkinkan mereka tetap bercocok tanam bahkan di musim kemarau panjang. Khoirul, seorang petani Sobokerto, bersaksi bahwa program ini mengubah kondisi pertanian mereka secara drastis. "Dulu saat kemarau, kami sangat kesulitan menanam. Lahan luas hanya bisa ditanami sekitar 20 persen. Setelah didampingi Pertamina, kami diberi solusi untuk mengairi pertanian sehingga bisa berkembang seperti sekarang," ujarnya penuh syukur.
Kisah sukses lainnya datang dari Desa Rawa Meneng, Subang, Jawa Barat. Ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan yang dulunya terbuang percuma karena tak bernilai ekonomis, kini diolah menjadi tepung ikan bernutrisi tinggi. PLTS dimanfaatkan untuk melistriki alat pengeringan ikan, sekaligus memberikan edukasi peningkatan ekonomi melalui pengolahan limbah. Karyono, Ketua KUD Mina Karya Baru, menjelaskan, "Biasanya ikan rucah ini kami buang karena harganya sangat rendah. Tapi dengan adanya program ini, ikan rucah yang tidak bernilai jual itu bisa kami olah jadi tepung ikan sehingga menjadi bernilai ekonomi. Apalagi mesin pengeringnya dioperasikan dengan menggunakan PLTS, biaya produksi jadi lebih hemat." Tepung ikan ini kemudian menjadi pakan unggas dan ikan yang kaya gizi.
Melangkah lebih jauh ke timur, Desa Malasigi di Distrik Klayili, Sorong, Papua Barat Daya, sukses meraih juara 1 Desa Wisata Rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Malasigi berhasil menyisihkan lebih dari 6.000 desa wisata lain berkat potensi ekowisatanya. Desa ini menjadi satu-satunya kampung di Distrik Klayili yang gigih bertahan dari gempuran alih fungsi lahan, dan kini menjadi percontohan yang mengandalkan ekowisata sebagai sumber penghasilan. Masyarakat dapat berdaya dan mandiri secara ekonomi sembari tetap menjaga kelestarian hutan, didukung oleh PLTS berkapasitas 8,72 kilowatt peak (kWp).
Inisiatif yang memadukan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendorong kemandirian masyarakat inilah yang menjadi esensi inti program Desa Energi Berdikari Pertamina. DEB tidak sekadar menyediakan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui berbagai sektor. Dengan konsep ini, energi bersih menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi yang mendorong kemandirian masyarakat sekaligus mendukung target nasional menuju Net Zero Emission 2060.
Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa DEB mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan masyarakat lokal, mengurangi dampak lingkungan, dan mengatasi ketimpangan akses energi melalui adopsi energi terbarukan. Hingga Mei 2026, Pertamina telah memiliki 262 lokasi DEB yang terbagi dalam tiga tematik program: Ketahanan Pangan (163 lokasi), Wisata Energi (46 lokasi), dan Pesisir Modern (43 lokasi). "Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina memiliki tanggung jawab menyediakan energi bagi Indonesia. Namun di saat yang sama kami juga melihat adanya potensi masyarakat yang dapat dikembangkan bersama untuk mewujudkan kemandirian sesuai dengan potensinya masing-masing. Kolaborasi itulah yang diwujudkan melalui Desa Energi Berdikari," jelas Baron.
Implementasi DEB membuktikan bahwa energi terbarukan dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Data per Mei 2026 menunjukkan bahwa sumber EBT yang terpasang meliputi 230 unit panel surya, 21 metana & biogas, 8 mikrohidro, 1 hibrida, dan 2 biodiesel. Dari sumber-sumber ini, dihasilkan energi listrik sekitar 1,3 juta Wattpeak dari tenaga surya, mikrohidro, hibrida surya & angin, serta 959 ribu meter kubik produksi biogas dan metana per tahun.
Dampak positifnya terhadap lingkungan juga tak kalah besar, program ini berhasil menurunkan emisi lebih dari 1 juta ton CO2eq per tahun. Manfaat langsung dirasakan oleh sekitar 283 ribu jiwa di seluruh lokasi DEB di Indonesia. "Program ini bukan hanya tentang teknologi energi baru terbarukan, tapi tentang membentuk ekosistem masyarakat yang mandiri, sadar lingkungan, dan siap menghadapi masa depan," pungkas Baron. DEB menjadi model nyata bahwa transisi energi dapat dimulai dari akar rumput, dari desa-desa, bukan hanya dari kota atau industri besar.


