faktual.news – Peternak ayam dan telur kini bisa bernapas lega. Setelah sempat tertekan, harga komoditas unggas ini di tingkat produsen dilaporkan kembali melonjak. Badan Pangan Nasional Bapanas mengidentifikasi dua pemicu utama di balik pemulihan harga yang signifikan ini yakni bergulirnya kembali program Makan Bergizi Gratis serta berakhirnya Bulan Suro.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menjelaskan bahwa usainya periode Bulan Suro menjadi faktor krusial, terutama di Pulau Jawa. Selama Bulan Suro, aktivitas hajatan seperti pernikahan cenderung berkurang drastis. Kondisi ini secara langsung memukul permintaan akan ayam dan telur, menyebabkan harga di tingkat peternak anjlok.

"Data kami menunjukkan tren kenaikan yang positif. Program Makan Bergizi Gratis tentu punya andil, namun berakhirnya Bulan Suro juga memberikan dampak yang sangat besar," ungkap Ketut saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta Selasa 14 Juli.
Menurut Ketut, saat Bulan Suro berlangsung, minimnya acara-acara besar membuat permintaan terhadap kedua komoditas ini menurun tajam. Akibatnya harga jual di level peternak mengalami depresiasi yang cukup dalam. Namun begitu periode Suro usai dan bertepatan dengan dimulainya kembali program Makan Bergizi Gratis setelah libur sekolah, minat pasar kembali bergairah.
"Ketika Bulan Suro berakhir dan anak-anak sekolah kembali masuk, program MBG pun berjalan lagi. Ini membuat harga di tingkat peternak mulai merangkak naik dan menunjukkan perbaikan yang bagus," tambahnya.
Saat ini harga telur di tingkat peternak diperkirakan berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram. Sementara itu harga ayam potong di level peternak juga menunjukkan angka yang serupa yakni sekitar Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Ketut menegaskan kombinasi kedua faktor ini sangat vital dalam mengembalikan senyum para peternak di seluruh Indonesia.


