Faktual.news – Membayangkan masa tua yang tenang tanpa harus memikirkan biaya hidup harian adalah impian setiap orang. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau karyawan di perusahaan besar, gambaran masa tua yang sejahtera biasanya sudah terjamin melalui skema dana pensiun otomatis yang dipotong langsung dari gaji setiap bulan. Namun, bagi mereka yang bergerak di sektor informal atau pekerja mandiri, realitas ini sering kali terasa jauh dari jangkauan.
Berbeda dengan pekerja formal, para pelaku usaha mandiri, freelancer, hingga pedagang tidak memiliki jaminan hari tua yang disediakan oleh institusi. Ketiadaan sistem pemotongan otomatis ini membuat kelompok pekerja informal rentan terjebak dalam ketidakpastian finansial saat tenaga mereka mulai menurun dan produktivitas berkurang. Meski demikian, bukan berarti masa tua yang nyaman mustahil diraih. Dengan strategi yang tepat, pekerja mandiri bisa membangun "benteng" finansial mereka sendiri.

Langkah pertama yang paling krusial adalah memulai sedini mungkin. Budi Rahardjo, perencana keuangan dari OneShildt Financial Planning, menekankan bahwa waktu adalah aset terbesar dalam berinvestasi. Semakin cepat seseorang mulai menyisihkan uang, semakin ringan beban yang harus ditanggung di masa depan. Sebagai ilustrasi, jika seseorang mulai menyiapkan dana pensiun di usia 20-an dengan target pensiun di usia 55 tahun, ia mungkin hanya perlu menyisihkan 10 hingga 15 persen dari pendapatannya. Sebaliknya, jika baru memulai di usia 40-an, persentase yang harus disisihkan bisa melonjak drastis hingga 40 persen dari pendapatan bulanan.
Selain faktor waktu, Budi juga mengingatkan pentingnya memiliki dana darurat dan proteksi asuransi. Hal ini bertujuan agar akumulasi dana investasi yang telah dikumpulkan dengan susah payah tidak terpakai untuk menutupi biaya medis atau kebutuhan mendadak lainnya.
Untuk menentukan berapa besar uang yang harus dikumpulkan, terdapat metode praktis yang disebut "Rule of 4 Persen". Dalam metode ini, target dana pensiun dihitung dengan membagi estimasi pengeluaran tahunan dengan angka 4 persen. Sebagai contoh, jika pengeluaran bulanan diperkirakan sebesar Rp5 juta, maka pengeluaran tahunan adalah Rp60 juta. Dengan rumus tersebut, target dana yang harus disiapkan adalah Rp1,5 miliar. Namun, perlu diingat bahwa angka ini masih harus disesuaikan dengan faktor inflasi di masa depan.
Pendekatan lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendisiplinkan diri layaknya karyawan perusahaan. Andi Nugroho, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), menyarankan agar pekerja mandiri mengadopsi sistem pemotongan gaji otomatis. Ia menyarankan untuk menyisihkan sekitar 6 persen dari pendapatan bulanan ke instrumen seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) atau aset investasi lainnya.
Andi juga memberikan cara hitung sederhana berdasarkan angka harapan hidup. Jika seseorang ingin pensiun di usia 56 tahun dan rata-rata harapan hidup adalah 72 tahun, maka ada jeda 16 tahun masa pensiun yang harus dibiayai. Jika kebutuhan hidup bulanan adalah Rp7 juta, maka total dana dasar yang dibutuhkan adalah sekitar Rp1,344 miliar. Tentu saja, angka ini merupakan perhitungan dasar yang perlu terus diperbarui mengikuti laju inflasi dan kondisi kesehatan di masa mendatang.


