faktual.news – Sebuah insiden tak terduga terjadi di Sungai Kapuas, Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat. Sebuah kapal tongkang pengangkut kernel sawit dilaporkan terjebak di dasar sungai yang mengering. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung segera angkat bicara, meluruskan spekulasi yang beredar. Ia menegaskan, kondisi ini bukan disebabkan oleh pembatasan produksi, melainkan murni karena menyusutnya volume air sungai.
Yuliot menjelaskan, debit air Sungai Kapuas yang sangat rendah membuat kapal tongkang kesulitan untuk bergerak dan akhirnya kandas. "Ini bukan karena pembatasan produksi. Masalah utamanya adalah air sungai yang tidak cukup untuk mengalirkan tongkang," ungkap Yuliot saat ditemui usai acara Indo EBTKE ConEx and Exhibition 2026 di JiExpo Kemayoran.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, pihak Kementerian ESDM bahkan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi. "Saya sendiri sudah mengecek langsung di Kalimantan Barat. Memang benar, sungai di sana mengering, sehingga tongkang tidak bisa melanjutkan perjalanan," tambahnya.
Kapal tongkang yang membawa muatan kernel sawit dari Sejiram menuju Tayan itu terpaksa terdampar akibat kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Sungai Kapuas, urat nadi transportasi vital di Kalimantan, telah dilanda kekeringan parah selama empat bulan terakhir tanpa guyuran hujan. Suhu ekstrem turut memperparah kondisi ini, tidak hanya di Kapuas, tetapi juga menyebabkan surutnya beberapa sungai dan danau lain di Kalimantan. Fenomena ini bahkan menarik perhatian warga sekitar yang berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk menyaksikan langsung kapal tongkang yang terjebak di tengah sungai yang mengering.


