faktual.news – Kepala Badan Gizi Nasional BGN Sudaryono melontarkan peringatan keras bagi seluruh pengelola fasilitas penyedia makanan program Makan Bergizi Gratis MBG. Ia menegaskan akan menghentikan operasional secara permanen setiap dapur yang tidak memenuhi standar kelayakan tanpa memandang siapa pemilik atau pihak yang mengelolanya. Pernyataan tegas ini muncul menyusul evaluasi menyeluruh BGN pasca insiden dugaan keracunan yang menimpa sejumlah siswa di SMAN 1 Berastagi Kabupaten Karo Sumatera Utara.
"Saya tidak akan melihat siapa di balik operasional fasilitas tersebut. Fokus kami adalah sistem. Jika sebuah dapur gagal memenuhi standar yang telah kami tetapkan maka dengan berat hati kami akan menutupnya secara permanen" ujar Sudaryono saat ditemui di halaman Istana Merdeka Jakarta Pusat Senin 17 Agustus. Ketegasan ini berlaku untuk semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG yang tidak mampu memenuhi kriteria operasional BGN. Fasilitas yang tidak dapat diperbaiki akan ditutup selamanya.

Dalam kurun waktu tiga pekan sejak menjabat sebagai kepala BGN Sudaryono mengungkapkan pihaknya telah menutup sekitar 1300 SPPG. Rinciannya 800 fasilitas dihentikan operasionalnya di tahap awal dan 500 lainnya menyusul kemudian. Selain penutupan dapur yang bermasalah BGN juga meninjau ulang prosedur pemeriksaan makanan menyusul kasus Berastagi.
Sudaryono menjelaskan bahwa metode pemeriksaan makanan secara organoleptik seperti mencium bau atau mencicipi rasa tidak selalu efektif dalam mendeteksi potensi masalah yang dapat menyebabkan keracunan. "Terkadang makanan sudah dibau dan dicicipi tidak menunjukkan tanda-tanda masalah namun setelah dikonsumsi tetap saja terjadi keracunan" jelasnya.
Oleh karena itu BGN sedang mempertimbangkan penggunaan alat uji atau test kit di setiap dapur SPPG. Alat ini akan memanfaatkan bahan kimia khusus untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat berbahaya atau kondisi makanan yang tidak layak konsumsi. "Kami sedang mengkaji penggunaan test kit ini agar setiap dapur dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh misalnya untuk mendeteksi arsen atau kondisi basi pada makanan" imbuh Sudaryono. BGN juga tengah mempelajari implementasi test kit dari beberapa SPPG yang sudah menerapkannya seperti yang dikelola oleh Bhayangkari dari Polri.
Sebelumnya BGN telah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan kepala SPPG yang terkait dengan insiden keracunan di SMAN 1 Berastagi. Dapur operasional SPPG tersebut juga telah disegel sebagai tindakan administratif. "BGN memastikan kondisi para siswa yang terdampak dan terus mencari akar permasalahan" tulis Sudaryono melalui akun Instagram resminya. Koordinasi erat juga dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Karo dan Dinas Kesehatan setempat untuk menganalisis sampel sisa makanan guna mengungkap penyebab kejadian.
Meskipun demikian Sudaryono mengingatkan bahwa satu kasus tidak dapat menjadi cerminan keseluruhan program. Dari total 27 ribu dapur SPPG sebagian besar telah beroperasi dengan baik. "Alhamdulillah sebagian besar dapur kami bekerja optimal dan kami akan terus mendorong peningkatan kualitas. Bagi yang belum memenuhi standar kami akan evaluasi dan jika tidak dapat diperbaiki mohon maaf harus kami tutup" tegasnya. Sudaryono juga menambahkan bahwa personel yang tidak mampu mengikuti standar tinggi BGN akan diberhentikan dari status ASN PPPK mereka.


